Blogger Wanted for VW Touran Test Drive

June 9th, 2009

Volkswagen Indonesia is inviting bloggers who are enthusiastic about automotive…well basically any bloggers who are interested… to test drive and feel the power of its latest MPV and first production car in Indonesia, Volkswagen Touran dubbed “the Family Sports Car.”

When : 20-21 June 2009, 1 pm onwards
Where : Senayan City room G-06
What : Sporty ride experience
Smart driving tips
Touran travelling consultant corner
Kids activities and cookies painting competition
Golf challenge

You can also win exclusive and unique prizes.

RSVP to arief@admerial.com or iskandar@admerial.com

Also join VW Touran Indonesia fan page on facebook

For info on Volkswagen Touran visit: Volkswagen Indonesia

Aditya Digital PR, On Public Relations , , , ,

Digital PR people will talk of Prita for a looongg time

June 1st, 2009

Adalah Prita Mulyasari, ibu dengan dua anak, harus rela mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang sebagai tersangka kasus pencemaran nama baik Rumah Sakit Internasional Omni Hospital, Alam Sutra, Serpong, Tangerang Selatan.

Pasien mana yang ingin diperlakukan tidak baik? Itu yang dirasakan Prita ketika dirawat di UGD 7 Agustus 2008. Merasa keluhannya diacuhkan ia kirim email ke mailing list dan surat pembaca ke detik.com

Lalu keluhan Prita menyebar seperti virus. Keluhannya kemudian beredar ke berbagai milis dan forum internet, bahkan muncul di berbagai blog. Coba google “RS Omni” yang keluar bukan website Omni tapi cerita Prita dan keluhannya.

Instead of engaging dengan Prita. Mereka menempuh jalur hukum, apalagi kalau bukan jurus “pencemaran nama baik”. Sebuah jurus yang sepertinya bisa melegitimasi apa saja. Saya cuma berharap PN Tangerang dapat melihat kasus ini dengan bijak, dan membebaskan Prita dari segala tuduhan.

 

Kalau sampai dihukum, yang terancam adalah semua hak konsumen untuk menyatakan pendapat, kritik dan saran. Pesan saya simple: buat apa ke rumah sakit yang tak mau mendengarkan kritik dan saran dari konsumennya.

 

Read more…

nivell Digital PR , , , , ,

Indonesian Blogger Survey

May 21st, 2009

Check out this very cool and very important survey by our friends from Indopacific Edelman. The survey provides an insight to who the bloggers are, what their demographic, what they write, how they engage, social media online presence. I think it is a wonderful insight for companies thinking about diving in the digital PR world. It definitely better shape up our strategies here at InDiPR. Cuddoosss guys, Indonesia thanked you.

nivell Digital PR, survey , , , , , ,

Digital PR Censorship in China

May 18th, 2009

Wah, China memang edan. Perusahaan digital PR di sana, ketimbang melakukan komunikasi dua arah yang saling menguntungkan, dengan cara kreatif merangkul publik mereka. Mereka tanpa ba-bi-bu langsung mensensor komentar negatif terhadap klien mereka dan menggantinya dengan pesan2 positif.

Berikut artikel dari dengmengwei.wordpress.com

I assume most people know that sensitive topics in China are often automatically rejected if they trigger a keyword filter. Sometimes, they’re deleted by human censors employed by Internet companies. Now, the censorship reaches digital PR industry in China!

Recently, Southern City Daily carried an article on a rising number of China’s digital PR agencies delete negative articles and posts for their clients. According to the article, organizations or individuals claiming to be PR agencies are offering to delete such negative contents on request, asking for fees ranging from RMB10,000 ($1400) for major portals such as Sina.com and Sohu.com, to RMB1,000 ($140) for local Web sites.

Read more…

nivell Digital PR , ,

Twitter Journalism

April 27th, 2009

twitter journalism on Mumbai bomb attack

twitter journalism on Mumbai bomb attack

Saat ini saya lagi mengetik, sedikit lapar, dan agak pusing dari hujan tadi. Tapi tunggu dulu, itu lima detik yang lalu. Sekarang saya makan roti dan sudah tidak begitu pusing lagi. Tapi masih mengetik.

Itulah asiknya dunia twitter. Microblog yang menjawab pertanyaan: apa yang sedang kau lakukan sekarang. Sementara orang-orang menggunakan twitter untuk hal-hal yang tidak serius seperti ketemu dengan teman lama, atau bosan denger bos cuap-cuap di rapat, ada juga yang mulai memikirkan cara berkomunikasi di era web 3.0 ini untuk hal-hal yang lebih serius.

Welcome to twitter journalism.

Walau mungkin 140 karakter tidak akan mungkin menggantikan koran bahkan portal berita. Tweet journalist ataupun jurnalis yang twittering melaporkan hal-hal serius seperti live breaking news dan update-update terbaru. Hal yang aneh yang jarang ditemukan setiap hari sampai jalan mana yang macet.

Saya adalah korban baru tweet journalism. Walaupun sudah menjadi jurnalis agak lama dan twittering lebih lama lagi, baru kali ini saya menggabungkan keduanya.

Ternyata ide ini sudah ada sejak lama. ReadWriteWeb (RWW) sudah mengadvokasikan penggunaan twitter untuk news writing, walaupun banyak juga yang masih skeptis.

Menurut RWW twitter dapat:

Mendokumentasikan ide-ide tulisan yang tadinya terpisah-terpisah agar nantinya dikompilasikan dan dijadikan satu artikel yang panjang. Lumayan daripada menebang-nebang pohon untuk menghasilkan notes.

Interview atau feedback: hal ini juga dilakukan oleh Jakarta Globe, tempat alter-ego saya bekerja, dan banyak replies dari twitter yang akhirnya dimasukkan ke surat pembaca. Ada juga wartawan, di luar sana yang melempar pertanyaan ke publik dan responsnya dimasukkan menjadi artikel. Semacam online FGDs.

Jakarta Globe juga memakainya untuk quality check. Mereka dapat tahu berita apa yang hangat di bibir pembaca mereka. Seperti artikel saya di publikasi itu beberapa saat yang lalu: An Inside Peek into the World of Jakarta’s Illegal DVD trade. Quality assurance juga salah satu poin di RWW

Dan yang penting adalah promosi, baik untuk publikasinya sendiri dan bagi wartawan yang twittering ya promosi wartawan itu sendiri.

nivell Digital PR , , , ,

Politik dan Media Digital di Indonesia

March 22nd, 2009

Jum’at malam yang lalu, Jusuf Kalla mengundang sejumlah blogger untuk bertatap muka dengan beliau.

Dengan  NdoroKakung sebagai moderator, pembicaraan malam itu terasa cair. Selain ajang curhat bagi sebagian blogger akan beberapa hal mulai dari UU IT, pornografi di dunia maya, hingga masalah kesehatan di Tambalan, sebuah daerah terpencil di Sumatra, terdapat pula pertanyaan tentang alasan Bapak JK kembali mencalonkan diri dan apa ekspektasi beliau saat mengundang para nlogger tersebut.

Dalam menjawab pertanyaan terakhir di atas, beliau sangat diplomatis. Hanya ingin mendengar dan didengar.

Padahal, semua pun tahu, masa kampanye sedang berlangsung. Beberapa blogger pun menganggap bahwa acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian kampanye.

Namun, baik itu kampanye atau bukan, tak sedikit yang mengacungi jempol. Acara tersebut merupakan sebuah smart move. Belum ada politisi—paling tidak di Indonesia—yang mengadakan pendekatan serupa terhadap blogger.

Kalaupun ada beberapa blogger yang terkesan mendukung partai tertentu dalam blog mereka, itu karena mereka memang partisan atau minimal pro terhadap partai tersebut. Tapi, yang diundang malam itu adalah blogger dari berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda, seperti para blogger   Anging MamiriEnda Nasution dan  Iwan Piliang.

Pertemuan tersebut, tak ayal lagi, dapat menjadi satu katalisator bahwa Media Digital telah mendapatkan tempat khusus di mata publik Indonesia. Keberadaan blogger semakin diperhitungkan. Kemampuan mereka untuk menggerakkan publik tak lagi dipandang sebelah mata.

Sebelum ini, beberapa perusahaan telah menggandeng blogger sebagai mitra mereka dalam membangun relasi publik ataupun promosi. Dan, sekarang, politikus pun turut membina hubungan dengan blogger. Tak diragukan lagi, Media Digital Indonesia akan semakin bergairah.

nadiah Digital PR

UK’s Online PR Benchmarking Report

March 4th, 2009

E-consultancy baru saja merilis Online PR Industry Benchmarking Report, berdasarkan survey 300 marketers dan PR professional di UK dari in-house company dan konsultan

Dari hasil ditemukan bahwa Online PR/Digital PR menerima porsi yang sangat besar di annual budget komunikasi mereka. Perusahaan menghabiskan 39% PR activity budget mereka untuk online dan konsultan mengatakan 47% retainer mereka berasal dari Online PR/Digital PR.

Ini adalah tahun yang baik untuk Digital PR consultancy DI INGGRIS…heheheh…51% dari kerjaan online di-outsource ke konsultan namun masih dibagi dengan marketing agencies (29%) dan web companies (22%)

Bagaimana di Indonesia? Pengalaman InDi memperlihatkan ada empat jenis:

Read more…

nivell Digital PR, survey , , , , ,

Tarif Internet Akan Turun

February 20th, 2009

Wow ini baru kabar bagus. Tarif internet akan diturunkan 200 persen. Walaupun statement ini agak agak aneh, gimana bisa diturunkan 200 percent? Bearti perusahaan internet dong yang bayar kita??

Anyway, setelah beberapa kasus overlimit dan overcharged sampai dua juta. Saya putus hubungan dengan yang namanya Speedy itu dan rencananya beralih ke Biznet. Sementara ini pakai IM2,lemot sekali tetapi.

Internet should be free. Agree? 

Tarif Internet Diharapkan Turun 200 Persen

Liputan6.com, Jakarta: Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), M. Nuh, mengatakan, Kamis (19/2), pihaknya mendorong penurunan tarif internet, tidak sekadar 100 persen tetapi 200 persen pada tahun ini. Namun, ia menekankan bahwa penurunan itu harus realistis karena saat ini tarif internet sangat tergantung pada penyedia layanan internet (ISP).

ISP ada yang menawarkan tarif yang sangat mahal, tetapi sebaliknya ada ISP yang menawarkan tarif sangat murah. “Paling tidak, itu dipengaruhi oleh dua hal, yaitu investasi yang terlalu mahal dan captive market yang kecil sehingga tarif ritel naik,” katanya.

Karena itu, pihaknya akan mendorong agar market bisa semakin besar. “Internet itu digunakan oleh satu orang tetap sama dengan dipakai oleh 10 orang. Ini yang harus dicari trade off-nya,” katanya.

Menteri mengatakan, pihaknya tidak akan menerbitkan regulasi terkait penurunan tarif internet, tetapi lebih ke arah regulasi yang dapat mendorong agar tarif dapat turun. Contoh sederhana adalah mempermudah proses perizinan dan uji wilayah.
(YUS/ANTARA)

nivell Digital PR , , , , , ,

Preaching the Unconverted

February 20th, 2009

InDi saat ini bersyukur banget karena sekarang banyak sekali perusahaan yang sudah mulai memikirkan soal digital campaign. InDi juga bersyukur banget kita udah ketemu seorang blogger yang mau bantuin kita dan kita harapkan bisa jadi ujung tombak dan salah satu Top Gun kita.

Seiring dengan makin banyaknya InDi bersentuhan dengan corporate red tape dan endless layers of executives yang harus kita yakinkan kita menemukan satu hal yang boleh dibilang sangat diantisipasikan namun sangat krusial untuk kita tangani.

How to preach to the unconverted? Bagaimana kita berhadapan dengan orang-orang yang mungkin saja belum tahu Digital PR itu apa? Apa yang bisa dilakukan oleh digital PR? Dan menjelaskan bahwa digital is more than just spamming.

Yang terakhir adalah hal yang sangat serius. Dari waktu ke waktu, InDi sudah bisa melihat dari kerutan di dahi mereka bahwa yang terpikirkan adalah the so called “e-mail blasting”. Gak bisa disalahkan sih. Mungkin itu yang biasa mereka lakukan dan itulah yang pertama kali terlintas di benak mereka.
Read more…

nivell Digital PR , , , , , ,

Web 3.0

February 5th, 2009

 

Web 2.0 was over before it began. Websites like these were simply mimetic, they tried to look like things that already existed. Facebook was just the tree house tin can and a string phone system with a bland graphical user interface. It was entirely too easy for people with some luck and some skill to take something that exists in the legacy world and put it into the new world of electronic media. Thus, things like electronic personal ads, phone books and police blotters might have made things easier, but they haven’t really revolutionized your life, they just made it faster.

The original pioneering spirit of the internet, even going back to the San Francisco MUD was to add something new and unique to social life, something that didn’t exist before. The MUD (multiple user domain) was something of a live space with a constant chat, a connection, space and place that hadn’t existed before.

Web 3.0 returns to this original model. Sites are beginning to emerge that don’t simply mimic what something in the material world does, users are ready for the internet to finally bring a product that is unique again. Web 3.0 sites aggregate and synthesize in ways that the social media gurus would never think possible. Your new internet era is about a smarter internet, a network that doesn’t simply call a pile of results, but a near living system that produces new content rather than simply organizing what already exists.

Web 2.0 was a retro-fit of the legacy media, Web 3.0 is the production of a truly new media.

As Jessi Hempel wrote “Financially speaking, Web 2.0 has been a total bust.” Web 2.0 tried to make money by taking legacy media products and grafting advertisements onto them. This business model is nothing really new. Plumbers did it for years putting ads in the yellow pages. Plumbers, exterminators and contractors are great - but they never promised the revolution in human interaction, much less the stock prices of the new media firms. Web 3.0 might finally be getting somewhere. (computer.howstuffworks)

Source: money.cnn Via: computer.howstuffworks

nivell Uncategorized