Tahun ini InDi sangat beruntung bisa bekerja dengan orang-orang yang sangat kompeten di bidang Digital Public Relations dan juga sangat beruntung dapat berbagi keahlian kami dengan beberapa klien.
Sudah mulai banyak perusahaan yang mulai memahami pentingnya Digital Public Relations. Kalau di awal tahun menjelaskan apa itu digital, bagaimana kerjanya dan bagaimana efeknya terhadap reputasi perusahaan merupakan tugas yang tidak mudah, sekarang kami lebih bekerja keras pada strategi, taktik dan kreatifitas untuk meyakinkan mereka. Kalau awal tahun kami sering menghadapi orang2 yang mungkin saja tidak punya akun facebook dan sudah terbiasa menggunakan traditional media sekarang kami menemukan reaksi2 seperti “memang ini yang saya cari.”
Seperti halnya pedagang kaki lima ramai berdatangan ke kerumunan orang walaupun itu demo atau tempat bencana, perusahaan cenderung menggunakan platform2 yang sering digunakan masyarakat. Kalau dulu perusahaan2 punya akun facebook, sekarang setelah twitter mulai populer mereka pun berbondong bondong merambah microblogging site itu.
Namun ada beberapa hal menarik yang menjadi catatan kami.
It’s better as a Digital PR consultant to pitch our ideas to Brand Managers rather than PR Departments.
Ini fenomena menarik, BM atau mungkin Marketing Communications punya pandangan yang lebih terbuka terhadap digital PR, sementara PR dept sendiri cenderung skeptis. Saya berdasarkan kesimpulan ini berdasarkan beberapa pengalaman InDi dan mungkin tidak adil juga untuk digeneralisirkan, tetapi mungkin karena PR execs di perusahaan sudah terlalu terbiasa dengan story pitching, press conference, press release, media invitation and so on, that’s all they know how to do.
Padahal dari semua teori yang saya baca, PR is more than just Media Relations. James Grunig mendeskripsikan perjalanan PR mulai sebagai press agentry, public information, two way asymmetrical dan two way symmetrical. Yang terakhir ini adalah cita cita semua praktisi PR, karena kita tidak hanya memberikan informasi tetapi juga membutuhkan informasi dari public untuk sebagai acuan strategi kita. Karena teori ini dibuat sebelum meledaknya internet, saya tambahkan lagi pentingnya interaksi dengan public.
Mungkin saat Grunig menulis bukunya Excellence in PR and Comm Management di tahun 1989, dia tidak pernah membayangkan apa itu blog, apa itu social networking site, apa itu multimedia content sharing dan sebagainya. Di bukunya dia menjelaskan metoda komunikasi yang simetris sebagai communication research dan media monitoring dan tidak terbayangkan bahwa dengan blog walking kita bisa scanning isu apa yang berkembang di masyarakat, dengan facebook kita bisa tes komunikasi kita atau terjadinya sebuah FGD virtual dengan forum atau chat room. Tetapi yang masih relevan dari dulu sampai sekarang adalah PR is more than just informing, it is communicating both ways.
Grunig juga menjelaskan pentingnya membentuk komunikasi dengan memahami dulu apa yang diinginkan publik. Dengan begitu kompleksnya struktur public dan bergesernya pola konsumsi media dan bahkan cara mereka berkomunikasi PR harus merambah ke dunia Digital. Komunikasi sudah begitu personal, hampir tidak ada lagi gate keeper, semua informasi tersedia “one click away”. Ditambah lagi dengan makin demokratisnya distribusi informasi dengan blog, social network dan microblog, semua orang bisa jadi wartawan, editor sekaligus publishernya. This is an “evolve or die” situation buat semua PR profesional.
Sampailah kita ke poin kedua. Banyak sekali perusahaan yang melompat ke dunia digital tanpa memikirkan bagaimana cara kerjanya, dan boleh dibilang tanpa melihat sesuatu yang menjadi kepanjangan InDi PR, INTERACTIVE digital public relations. Terlalu banyak perusahaan besar, menengah maupun kecil melupakan bahwa “interaksi” adalah kunci keberhasilan kampanye digital.
Java Musikindo mungkin salah satu yang berhasil membuat lompatan tersebut. Dengan membuat twitter account, dalam waktu dua bulan saja mereka sudah punya 10.628 followers. Resepnya sudah barang pasti adalah mereka sebisa mungkin merespon semua replies dan direct messages, no matter how ridiculous. Dengan bahasa yang akrab dengan para audiencenya mereka dapat dengan singkat merebut hati orang. Walhasil, dengan mudahnya mereka mempromosikan suatu pre-sale konser yang ludes dalam hitungan hari. Komunikasi terjadi dua arah, dan audience mereka tidak pernah merasa sebagai objek marketing belaka tetapi sebagai sebuah komunitas.
Bandingkan dengan sebuah perusahaan rekaman yang sama sama punya akun twitter dan hanya memposting info2 terbaru dan tidak peduli untuk merespon pesan pengikutnya. Bisa2 dituduh spamming, bahkan saya saking sebelnya saya unfollow. “Menuh2in timeline aja sih!”
The lesson to be learned is, before you talk you have to learn how to listen.
Saya benar-benar kagum dengan Grunig, bahkan di zaman web 2.0 teorinya yang sudah lebih dari 20 tahun masih terasa relevansinya.
Interdependence: perusahaan tidak dapat lagi memilah2 publiknya karena semua saling bergantungan satu sama lain.
Open System: seiring dengan makin demokratisnya pemerolehan informasi, Perusahaan harus berevolusi dan mendengarkan masyarakat. Companies no longer strive to shape public opinion, it is the public opinion that shapes a company.
Equity: semua orang, apapun latar belakangnya punya suara yang sama proporsinya dengan orang lain.
Autonomy: semua orang punya kreatifitas dan ide2. Semua orang ingin didengar. Sementara platform2 lain komunikasi dan diseminasi informasi adalah hak eksklusif beberapa orang saja, digital memungkin siapa saja untuk didengar.
Innovation: perusahaan harus fleksibel terhadap ide2 baru dan tidak melulu fokus pada tradisi.
Responsibility: ini yang harus menjadi peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis. Ada norma2 yang harus patuhi bagi semua orang, dan semua orang harus menerima konsekuensi dan bertanggung-jawab atas segala tindakannya. Teman saya banyak yang komplain karena facebook dan twitter diblokir kantor. Establish the rule: finish your job first, then write on your friend’s wall! Don’t tweet about office gossips or grudge against your fellow workers! Terapkan peraturan bagi semua, dari direktur hingga office boy, jangan blokir platformnya. Ada proxi, ada blackberry. People are smart, when there’s a will there’s a way.
Nivell is a Viral Communicator for InDiPR. He tweets at http://twitter.com/nivellism
Posted in
Tags: