
Mulai dari gerakan mensupport autism sampai gerakan untuk menambah ruang terbuka public. Selamat datang di era online activism.
Secara teknik memulai online activism sangatlah mudah. Yang dibutuhkan adalah sebuah koneksi internet dan anda dapat segera membuat fan page atau cause page di facebook. Atau juga menggunakan twitter dengan membuat hash tag (#). Anda tidak perlu punya banyak friends di facebook ataupun twitter, anda pun tidak harus menjadi seorang blogger terkenal.
Namun apa yang menjadi benang merah dari online activism yang berhasil. Kenapa beberapa gerakan online lebih berhasil dari yang lain dalam menggaet banyak supporter. Lebih jauh lagi kenapa beberapa gerakan menimbulkan impact dan yang lain sepintas lalu saja. Untuk itu mari kita bedah online activism di Indonesia yang punya impact sangat kuat.
Prita Mulyasari
Hanya karena mengirimkan sebuah email tentang buruknya perawatan yang ia terima dari sebuah rumah sakit terkenal ke sebuah milis yang berisikan 20 anggota, ibu Prita harus mendekam di rumah tahanan selama hampir satu bulan. Tuduhan yang dilayangkan pihak rumah sakit adalah pencemaran nama baik. Berita tersebut sempat dimuat beberapa media masa, namun sampai ketika seorang blogger berinisiatif membuat cause page “bebaskan ibu prita mulyasari” orang-orang mulai menaruh perhatian kepada kasus ini.
Timingnya pun sangat sempurna, sebelum pemilihan presiden 2009. Kontan hal ini dipolitisir menjadi kritikan bagi pemerintah maupun bobroknya sistim peradilan di Indonesia. Segera setelah cause page ini menarik banyak supporter, tekanan masyarakat pun bertambah dan ibu Prita ditangguhkan penahanannya.
Malang bagi rumah sakit yang enggan menaruh simpati, sejumlah kontrak besar pun serta merta dibatalkan dan rumah sakit itu pun kehilangan pelanggan, bahkan sampai tak satupun pasien berani menginjakkan kaki di rumah sakit itu. Lagipula siapa yang mau nasibnya berakhir seperti ibu Prita.
“A man with a hammer sees all problem as nails,” dengan percaya diri, merasa tak perlu mendengarkan aspirasi masyarakat, Omni teruskan kasusnya perdata sekaligus pidana. Dari legal standpoint mungkin ibu Prita bersalah tapi masalah ini sudah menyentuh ranah sosial. Kontan saja saat PT Tanggerang memerintahkan Prita membayar ganti rugi Rp 204 juta semua orang patungan menyumbang koin untuk membuat malu Omni. Ikuti perkembangannya di http://koinkeadilan.com
#IndonesiaUnite
Bom kuningan tahun 2009, benar-benar meruntuhkan citra Indonesia, apalagi setelah hampir lima tahun kita hidup tanpa serangan teroris. Bahkan tim sepakbola raksasa Manchester United membatalkan kunjungannya ke Indonesia. Walhasil, para pedagang kecil yang berbulan-bulan sebelumnya sudah mempersiapkan merchandise berbau setan merah pun merugi, karena dagangannya sudah barang tentu tidak laku.
Segerombolan pemuda pun tak lalu diam menyikapi hal tersebut. Sesuatu harus dilakukan untuk para pedagang tersebut dan juga sekaligus menggugah jutaan rakyat Indonesia agar bersatu dan bangkit dari serangan terkutuk tersebut. Dari situlah Indonesia Unite, pelesetan dari Manchester United lahir.
Mulai dari sekedar trending topic di twitter sampai kaus bolak balik atau bolbal. Untuk urusan yang terakhir ini kaus-kaus Manchester United tersebut dibalik luar dalam dan disablon ulang menjadi Indonesia Unite.
Bibit and Chandra
Ketika dua pimpinan KPK ini ditahan mabes polri rakyat tak tinggal diam. Bagi jutaan rakyat Indonesia penahanan Bibit dan Chandra adalah symbol pejuang anti-korupsi yang dikriminalisasi oleh salah satu institusi paling korup di Indonesia karena menjalankan tugasnya.
Sebelum gerakan facebook, dukungan bagi Bibit dan Chandra sporadis dilakukan mahasiswa dan LSM. Sementara jutaan orang Indonesia yang ingin berpartisipasi tidak terfasilitasi. Hampir dalam hitungan gerakan facebook ini terbentuk, sudah lebih dari seratus ribu orang mendukung. Ditambah lagi rekaman KPK yang diputar di Mahkamah Konstitusi disiarkan langsung oleh televisi-televisi nasional, makin menambah dugaan kriminalisasi dan kecurigaan masyrakat akan motif busuk dibalik penahanan Bibit dan Chandra.
Pemerintah segera membentuk tim 8 untuk menganalisa apa yang sebenarnya terjadi. Polisi pun segera menangguhkan penahanan, dan hampir setiap hari orang2 turun ke jalan dan memprotes proses hukum yang terjadi.
Tanggal 8 Desember kemarin publik mengalami kemenangan, Bibit dan Chandra kembali menjabat Wakil Ketua KPK.
Relevant
Dalam bukunya “Beyond Buzz” Lois Kelly berulang kali menekankan pentingnya “meaning” atau “arti” sebuah campaign, tidak dalam artian luas dan retoris tetapi dalam artian personal dan simbolis. Singkat kata, why should I care?
Dukungan untuk Prita bukanlah dukungan bagi seorang ibu beranak dua. Gerakan ini mengandung signifikansi dan simbolisme yang luar biasa. Jutaan orang tergabung dalam milis yang jumlahnya juga tak kalah banyaknya. Tiap2 individu tersebut bisa jadi Prita-Prita berikutnya. Yang didukung atau yang diperjuangkan dalam gerakan mendukung Prita adalah kebebasan berekspresi dan kebebasan berpendapat yang dengan mudahnya dipasung oleh dalih-dalih pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan dan embel-embel lainnya.
Kasus ini juga begitu menarik perhatian karena menjadi wujud nyata keberpihakan system peradilan di Indonesia. Dalam kata lain, kasus ini adalah kasus David melawan Goliath.
Lain halnya dengan Bibit dan Chandra. Jutaan orang sudah melihat kejanggalan proses hukum yang terjadi karena mereka berdua hampir setiap hari menghiasi muka surat kabar dan televisi di Indonesia. Gerakan facebook ini hanya mengubah kegundahan di masyarakat yang tadinya cair menjadi sesuatu yang konkret dan dapat dikuantifisir. Lebih dari sejuta orang mendukung Bibit dan Chandra.
Jika kita kalkulasikan bahwa hanya ada delapan juta orang Indonesia di Facebook dan penduduk Indonesia adalah 250 juta, sementara pendukung Bibit dan Chandra 1.5 juta orang maka angka real pendukung Bibit dan Chandra adalah 42.7 juta orang.
Usaha yang diperlukan untuk menjaring 1 juta orang memang tidaklah begitu besar karena memang orang-orang merasakan hal yang sama. Terbukti dengan satu minggu, target satu juta terkumpul dengan mudahnya.
Reaching out to the right people
Kasus Prita maupun kasus Bibit dan Chandra adalah kasus yang mudah dalam online activism, pesan yang ingin sampaikan menyentuh hampir seluruh elemen masyarakat di Indonesia tanpa batasan usia, pekerjaan, status ekonomi maupun geografis. Tetapi bagaimana jika pesan yang hendak disampaikan lebih segmented?
Menyentuh orang-orang yang tepat adalah langkah yang paling krusial. InDiPR telah menjelaskan dib log sebelumnya bahwa tahapan yang orang lalui di sebuah komunitas adalah aware – interest – exciting – important – valuable. Saat orang pertama join komunitas karena disuruh teman atau karena dengar dari saudara dan ada keinginan untuk bergabung. Tetapi kenapa orang berpartisipasi adalah karena komunitas itu menarik sehingga akhirnya menjadi bagian dari hidup anda.
Tingkat terakhir adalah ketika komunitas itu dapat memberikan value ke kehidupan mereka masing-masing. Pada saat inilah mereka mulai menceburkan diri menjadi aktif dan meneruskan pesan yang anda ingin sampaikan.
Untuk cause grup “selamatkan orangutan” misalnya anda tidak mulai dengan spamming ke seribu orang dengan harapan satu and dua orang akan bergabung. Lebih efektif jika kita mengundang beberapa orang yang memang aktif atau punya atensi lebih ke konservasi satwa langka, kritis terhadap perdangangan satwa, eco-warrior, eco-activists dan eco-journalists. Orang-orang ini kita harapkan bisa menjadi core group dan meneruskan pesan yang kita bawa.
Setelah itu baru second layer orang-orang yang menganggap pesan yang kita bawa important, exiciting, interesting dan terakhir yang sekedar ingin tahu saja.
What’s next? Interaction
Sering kali poin ini yang kita lupakan, selanjutnya apa? Apakah dengan menarik jutaan pendukung lantas tujuan kita tercapai atau advokasi kita berhenti? Jangan biarkan ini menjadi after thought, what’s next harus menjadi bagian dari strategi besar anda memulai online activism. Dengan jutaan cause page di facebook, activism anda dengan mudahnya hilang dilupakan orang. Harus ada sesuatu yang lebih untuk menjaga awareness level.
Sub poin pertama adalah kontribusi. Bagaimana kita dapat menstimulasi semua anggota untuk memberikan kontribusinya? Ketika anda menulis di wall, tentunya anda akan sangat menghargai bila wall post anda dibalas atau ditimpali, begitu juga para pendukung dari cause page yang anda buat. Jangan pikir hanya dengan mengirimkan newsletter tiap bulan, interest atau bahkan awareness level mereka akan terjaga. Kuncinya adalah Engage, Interact and Gratify. Jadilah yang pertama untuk menyapa, yang pertama menjawab dan yang pertama untuk berterima kasih.
Sub poin kedua dan masih erat kaitannya dengan sub poin pertama adalah fasilitasikan semua medium berekspresi. Ada beberapa orang yang memang lahir untuk turun ke jalanan dan berdemonstrasi. Ada juga yang lebih cocok untuk advokasi dan melobi. Ada yang suka melakukan kontribusi nyata dan menjadi sukarelawan. Ada yang cuma bisa menyuarakan kepedulian mereka melalui seni, musik, puisi dan tari. Apapun itu fasilitasikan.
Control
Yang saya maksudkan di sini adalah moderasi. Moderator yang baik bisa diidentikkan sebagai dinamisator dan stabilisator. Ketika cause anda sudah mulai adem ayem, moderator berfungsi sebagai pembakar semangat, dan ketika situasi mulai panas karena friksi moderator yang baik harus bisa menenangkan suasana.
Satu hal yang harus diantisipasi adalah potensi adanya “counter activism”. Bisa saja cause group anda diboncengi oleh penumpang gelap yang punya hidden agenda, sangat mungkin oleh orang-orang yang terganggu dengan pesan yang anda bawa. Orang orang ini punya tujuan untuk membelokkan arah tujuan cause, memperkeruh suasana di dalam, dan menghancurkan aktifitas anda.
Bisa saja secara teknis anda dihack atau lewat propaganda dan counter activity dengan pesan pesan dan teknik adu domba. Lagi lagi peran moderator sangat penting. Tugas moderator adalah mendeteksi, mengisolir dan memecahkan masalah. Jangan menjadi draconian, komunikasi yang terbuka dan dialog yang seimbang dua arah adalah solusinya.
Offline activity
Dengan begitu banyaknya kegiatan online orang akan cepat lupa. Harus saya akui saya sudah pernah bergabung di ratusan milis dan ratusan cause group, fan page dan sebagainya, dan saya tidak pernah aktif di semuanya. Satu hal adalah kurangnya offline activity. Saya yakin dengan begitu banyaknya orang yang percaya dengan pesan yang anda bawa, orang akan sangat tertarik untuk memberikan kontribusi yang nyata.
Online donation mungkin akan berfungsi di negara lain. Tapi di Indonesia, banyaknya credit card fraud, identity theft, ribetnya proses yang dilakukan membuat kebanyakan online donation tidak begitu efektif.
Tanpa adanya offline activity, cause anda tak lebih dari sekedar slogan, fad dan newsletter anda akan jadi sekedar spam yang membuat inbox anda semakin penuh. Buatlah kegiatan yang relevan, menyenangkan, interaktif dan rutin.
Lompatan ke media tradisional
Kalau tidak ada cause group bebaskan ibu Prita, mungkin saja kasus ini akan menjadi sekedar statistik belaka. Satu dari sekian banyak empiris yang menunjukkan ketimpangan hukum di Indonesia, satu dari sekian banyak studi kasus yang dibahas di kuliah-kuliah hukum. Karena ada facebook, orang-orang media, wartawan dan jurnalis menjadi aware. Oh ternyata ada kasus yang menarik nih. Sebelum ada cause group, cuma ada satu media yang mengikuti kasus ini, sesudah itu ribuan.
Ingat, wartawan banyak yang ikutan facebook dan wartawan juga banyak di twitter. Yang penting adalah pastikan ada contact person yang jelas.
Tentu saja kita bisa pitch story kita ke media. Saya ikut milis puisi jaman belum ada facebook dan twitter dan kita pitch story kita ke Kompas, dan “aneh”nya mereka tertarik. Sejak liputan Kompas milis yang tadinya 300 orang bertumbuh pesat menjadi 2,000 dan menjadi salah satu komunitas puisi yang patut diacungi jempol dan berpengaruh di Indonesia. Namanya Bunga Matahari.
Synergy
Aktifitas online harus sinergis dengan aktifitas offline, begitu juga sebaliknya. Karena offline activity kita menjaring lebih banyak member. Tetapi semua itu tiada arti kalau online activity kita terbengkalai, konten tidak update, isi itu-itu saja. Sebaliknya kalau kita fokus di online terus orang juga akan jenuh dan hanya jadi slogan basa-basi, dan member akan stagnant.
Implication
Yang berfikir cause group hanyalah aktifitas orang iseng itu salah besar. Dengan contoh di atas, jika diasuh dengan benar dan dengan strategi yang tepat kasus yang tadinya dalam pandangan sempit hukum mendapat perspektif sosial. Hukum sudah seharusnya menjadi refleksi keadilan di masyarakat dan publiklah yang akhirnya menentukan mana yang salah dan mana yang benar.
Begitu juga dengan isu lainnya seperti keadilan sosial, lingkungan hidup dan kesehatan online activism membuat orang yang tadinya tidak aware menjadi aware yang tadinya tidak tertarik menjadi tertarik.
If you wanna make the world a better place, take a look at yourself and make the change – Michael Jackson
Nivell is a Viral Communicator for InDiPR. He tweets at http://twitter.com/nivellism
Posted in
Tags: