<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>IndiPR</title>
	<atom:link href="http://indipr.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indipr.com</link>
	<description>Interactive Digital Public Relations</description>
	<lastBuildDate>Wed, 24 Feb 2010 05:41:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Yahoo + Twitter = Google Buzz?</title>
		<link>http://indipr.com/2010/02/24/yahoo-twitter-google-buzz/</link>
		<comments>http://indipr.com/2010/02/24/yahoo-twitter-google-buzz/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 05:41:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nivell</dc:creator>
				<category><![CDATA[Digital PR]]></category>
		<category><![CDATA[Deal]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<category><![CDATA[Yahoo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indipr.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Sepertinya Yahoo! ingin juga punya semacam Google Buzz dan solusi mereka adalah bekerjasama dengan platform yang sudah kondang Twitter.

"The information in one single tweet can travel light years farther with this Yahoo integration," kata sang pencipta Twitter Bizz Stone dalam siaran pers yang diterima The Los Angeles Times . "Tweets in more places brings relevance where and when you need it most."]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepertinya Yahoo! ingin juga punya semacam Google Buzz dan solusi mereka adalah bekerjasama dengan platform yang sudah kondang Twitter.</p>
<p>&#8220;The information in one single tweet can travel light years farther with this Yahoo integration,&#8221; kata sang pencipta Twitter Bizz Stone dalam siaran pers yang diterima The <a href="http://dailyme.com/story/2010022300004830/yahoo-strikes-content-sharing-partnership-twitter.html" target="_blank">Los Angeles Times</a> . &#8220;Tweets in more places brings relevance where and when you need it most.&#8221;</p>
<p>Kerjasama ini akan memungkinkan munculnya konten twitter di dalam jaringan Yahoo.</p>
<p>Pertama: Twitter feeds akan muncul di setiap service yahoo dari homepage dan e-mail dan seterusnya.</p>
<p>Kedua: pengguna yahoo juga bisa update twitter dan share content langsung dari Yahoo!</p>
<p>Ketiga: Hasil penulusuran Yahoo! juga akan memuat tweets begitu juga homepage YahooFinance YahooNews dan lain2 memuat tweet dan komentar orang.</p>
<p>Deal seperti ini sangat baik untuk Yahoo! untuk tetap relevan di dunia maya saat ini. Perbincangan <a href="http://www.readwriteweb.com/archives/gigya_4_optimizing_for_the_feed.php">ReadWriteWeb dengan Gigya CEO David Yovanno</a> menekankan integrasi yahoo dengan social network.</p>
<p>Buat Twitter juga sama penting karena mereka akan <a href="http://www.readwriteweb.com/archives/twitter_ad_platform_release_imminent.php" target="_blank">unveiling an advertising platform</a>, Dengan munculnya tweets di Yahoo, twitter mendapat exposure yang lebih besar dan advertising revenue.</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Findipr.com%2F2010%2F02%2F24%2Fyahoo-twitter-google-buzz%2F';
  addthis_title  = 'Yahoo+%2B+Twitter+%3D+Google+Buzz%3F';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indipr.com/2010/02/24/yahoo-twitter-google-buzz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa sih tolak RPM konten?</title>
		<link>http://indipr.com/2010/02/16/kenapa-sih-tolak-rpm-konten/</link>
		<comments>http://indipr.com/2010/02/16/kenapa-sih-tolak-rpm-konten/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 05:44:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nivell</dc:creator>
				<category><![CDATA[Digital PR]]></category>
		<category><![CDATA[konten]]></category>
		<category><![CDATA[menkominfo]]></category>
		<category><![CDATA[menteri]]></category>
		<category><![CDATA[peraturan]]></category>
		<category><![CDATA[RPM]]></category>
		<category><![CDATA[tolak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indipr.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Saya meneteskan air mata saat menulis ini. Tidak dijelaskan di pasal mana pun bagaimana saya bisa membela diri. Kalau konten saya dihapus secara sepihak oleh penyelenggara dan pemerintah saya bisa menggugat kemana? Ini yang sebetulnya jadi poin penting.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belakangan RPM konten ramai menjadi buah bibir di twitter dan facebook. Para blogger pun menelaahnya dengan cermat. Dengan gamblangnya <a href="http://www.politikana.com/baca/2010/02/12/selamat-datang-lembaga-sensor-internet-indonesia.html">politikana</a> memajang tajuk besar2 &#8220;Selamat Datang Lembaga Sensor Internet Indonesia.&#8221; Tak lama sebelum gerakan online ini tercium mainstream media.</p>
<p>Dimulai lewat tweet-tweet opinion leader, semua orang mengekor. Hingga gerakan <a href="http://twitter.com/#search?q=%23tolakRPMkonten">#tolakRPMkonten</a> menjadi sesuatu yang tidak lagi objektif, reaktif dan didasari ketakutan bahwa internet tidak akan sebebas dahulu.</p>
<p>Penting sekali kita telaah apa itu binatang yang bernama <a href="http://www.postel.go.id/content/ID/regulasi/telekomunikasi/kepmen/rpm%20konten%20multimedia.doc">Rancangan Peraturan Menteri Kominfo tentang Konten Multimedia</a>.</p>
<p>Jika dilihat RPM ini melindungi para pengguna dari pornografi (pasal 3); internet gambling (pasal 4); merendahkan orang2 cacat fisik dan mental (pasal 5); hoax, penghinaan terhadap agama, suku, golongan dan ras (pasal 6), IP infringement dan identity theft (pasal 7).</p>
<p>This is the norm offline. Should it be the norm online?</p>
<p><span id="more-156"></span>Pornografi yang dimaksud pastinya bersumber dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Undang-Undang_Pornografi">UU antipornografi</a>. Ingat bahwa hal ini masih kontroversial. Apa yang tabu di belahan bumi pertiwi yang satu belum tentu tabu di belahan yang lain. Kadar pornografi di Jakarta adalah menutup tubuh dari pinggul sampai diatas lutut sedangkan saudara kita di Papua? UU pornografi juga tidak toleran terhadap relief candi yang hampir semuanya topless. Mensugestikan sesuatu yang bisa ditafsirkan sebagai porno juga tidak boleh.</p>
<p>Internet gambling okelah, karena memang dilarang. Saya juga tidak keberatan dengan pasal 5. Semua orang memang harus menjaga diri tidak menggunakan kata-kata seperti &#8220;autis lo!&#8221; atau apapun itu.</p>
<p>Hoax. Mungkin orang akan berpikir ulang untuk menciptakan hoax. Tetapi bagaimana jika saya termakan oleh hoax dan saya forward ke orang lain? Bagaimana kalau saya beropini dan ternyata opini saya salah? Ingat kasus Prita Mulyasari. Ia tidak bisa membuktikan kalau Omni malpraktek dan ia harus di bui selama 28 hari.</p>
<p>SARA. Ini produk orde baru sebagai dalih pemersatu. Memang kadang2 orang agak kelewatan mencela suku, agama, ras dan golongan lain, tetapi patutkah mereka menerima ganjaran? Bagaimana orang2 yang mengadvokasikan pluralisme dan liberalisme? Atau Islam progresif yang selama in ditentang oleh Islam2 garis keras? Apakah mereka juga akan menjadi korban?</p>
<p>IP infringement. Kalau konten itu punya copyright memang tidak boleh. Tetapi internet mempunyai sesuatu yang disebut creative common. Apa batasannya?</p>
<p>Masih debatable adalah tafsiran Penyelenggara Jasa Multimedia. Siapakah mereka? Penafsiran saya dari RPM (pasal 1), mereka adalah jasa akses internet (speedy, biznet), penyelenggara interkonesi internet (telkom, ericsson), penyelenggara internet teleponi (telkomsel flash, IM2), sistem komunikasi data dan multimedia (gmail, blogger, facebook).</p>
<p>Mereka yang wajib screening dan memastikan pengguna mereka mematuhi RPM (Pasal 8). Mereka juga tidak boleh (dalam license and agreementnya) mengatakan bahwa &#8220;Perusahaan kami tidak bertanggung jawab atas isi para pengguna.&#8221;</p>
<p>Dalam 3 x 24 jam setelah ada laporan/ komplain penyelenggara wajib blokir/ suspend/ hapus konten tersebut (pasal 14). Tetapi konten itu harus disimpan selama 3 bulan (pasal 15), mungkin sebagai bukti yang dapat digunakan untuk mengkriminalisasi pengguna.</p>
<p>Untuk yang abu2, ada tim konten multimedia (pasal 22) dipimpin oleh dirjen. Mereka yang berhak menentukan yang abu2 ini termasuk konten merah (dilarang) atau hijau (boleh). Pasal 27 menjelaskan bahwa hasil kerja diberitahukan ke pelapor.</p>
<p>Saya meneteskan air mata saat menulis ini. Tidak dijelaskan di pasal mana pun bagaimana saya bisa membela diri. Kalau konten saya dihapus secara sepihak oleh penyelenggara dan pemerintah saya bisa menggugat kemana? Ini yang sebetulnya jadi poin penting.</p>
<p>Berlebihankah bila saya bilang #tolakRPMkonten?</p>
<p><a href="http://twitter.com/nivellism">Follow me on twitter</a></p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Findipr.com%2F2010%2F02%2F16%2Fkenapa-sih-tolak-rpm-konten%2F';
  addthis_title  = 'Kenapa+sih+tolak+RPM+konten%3F';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indipr.com/2010/02/16/kenapa-sih-tolak-rpm-konten/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia, Asia&#8217;s new Twitter Capital</title>
		<link>http://indipr.com/2010/01/20/indonesia-asias-new-twitter-capital/</link>
		<comments>http://indipr.com/2010/01/20/indonesia-asias-new-twitter-capital/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 11:29:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nivell</dc:creator>
				<category><![CDATA[Digital PR]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[social]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indipr.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[The Toronto based, social media monitoring agency, Sysomos published its second ‘Exploring the Use of Twitter Around the World’ report and put Indonesia in the number six spot of twenty global ranking list of countries with the most users with 2.41 percent of all users of the service. The only other Asian country that made the top twenty list is the Philippines which ranked 15th with 1.08 percent .

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>The Toronto based, social media monitoring agency, <a href="http://blog.sysomos.com/">Sysomos</a> published its second ‘Exploring the Use of Twitter Around the World’ report and put Indonesia in the number six spot of twenty global ranking list of countries with the most users with 2.41 percent of all users of the service. The only other Asian country that made the top twenty list is the Philippines which ranked 15th with 1.08 percent .</p>
<p>Topping the list of Sysomos study is the United States with more than 62 percent of the total twitter users in the world. The study does not show exactly how many active users in each country. However, according to <a href="http://twitdir.com/search_lite.php">Twitdir</a> website, Indonesia has more than 13,213 active users way below the US users of 89,860.</p>
<p>Based on the amount of activities Indonesia also ranked sixth in the world with 2.34 percent of the total twitter conversation. Singapore ranked 12th (0.88 percent), the Philippines 13th (0.85 percent) while Malaysia earned the 18th spot with 0.47 percent.</p>
<p>Jakarta is the sole Asian representative in the top twenty list of cities with 0.58% of Twitter users and 0.8% of Twitter activity. Topping the list of cities with the most users and activities is New York.</p>
<p>Throughout 2009, Indonesia&#8217;s twitter users had grown significantly while Indonesian related topics like the JW Marriott and Ritz Carlton suicide bombings and the death of local reggae artist Mbah Surip dominating conversations on the microblogging site.</p>
<p><span id="more-151"></span>Indonesia&#8217;s prominent blogger <a href="http://tikabanget.com/">Atika Nurkoestanti</a> said that the Jakarta terrorist attacks might have contributed to twitter&#8217;s popularity as the topic of &#8220;Indonesia Unite&#8221;, which served as an encouragement to boost people&#8217;s morale after the bombing, was adopted by major television and radio stations.</p>
<p>&#8220;Secondly, there are a lot of celebrities and public figures that started to tweet. Naturally their fans also joined twitter as the new hip thing,&#8221; she said adding that the emergence of smart phones like Blackberry and IPhones also contributed to the website&#8217;s popularity.</p>
<p>Another prominent blogger, <a href="http://dimasnovriandi.com/">Dimas Novriandi</a> said that twitter facilitates Indonesians&#8217; passion to socialize and take it online. &#8220;Basically, Indonesians love to chat. I see twitter will stay popular in Indonesia as long as twitter keeps giving new innovations,&#8221; he said.</p>
<p>Indonesians also utilize twitter for social causes like the case of Prita Mulyasari, a mother of two that was arrested last year for sending an email complaining about a care from a hospital. The case attracted the attention of the media and eventually the public after the word circulated around twitter and social networking site Facebook.</p>
<p>Social media expert, <a href="http://adityafajar.com/">Aditya Fajar</a> said that twitter has become an effective medium to advocate change. &#8220;Twitter brings people with a common sense of purpose and shared struggle closer,&#8221; he said. &#8220;But whether twitter is a hype or is here to stay remains to be seen.&#8221;</p>
<p>Sysomos noted that twitter is not popular in countries like Japan and China with the major barrier being language. Twitter does not accommodate non-Roman scripts very well, making those countries developing their own Twitter like service.</p>
<p>Nivell Rayda is a Jakarta based writer and Viral Communicator for InDiPR</p>
<p><a href="http://twitter.com/nivellism">Follow me on Twitter</a></p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Findipr.com%2F2010%2F01%2F20%2Findonesia-asias-new-twitter-capital%2F';
  addthis_title  = 'Indonesia%2C+Asia%26%238217%3Bs+new+Twitter+Capital';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indipr.com/2010/01/20/indonesia-asias-new-twitter-capital/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Rise of Online Activism</title>
		<link>http://indipr.com/2009/12/09/the-rise-of-online-activism/</link>
		<comments>http://indipr.com/2009/12/09/the-rise-of-online-activism/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 04:21:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nivell</dc:creator>
				<category><![CDATA[Digital PR]]></category>
		<category><![CDATA[activism]]></category>
		<category><![CDATA[digital]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Online]]></category>
		<category><![CDATA[public]]></category>
		<category><![CDATA[relations]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indipr.com/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[apa yang menjadi benang merah dari online activism yang berhasil. Kenapa beberapa gerakan online lebih berhasil dari yang lain dalam menggaet banyak supporter. Lebih jauh lagi kenapa beberapa gerakan menimbulkan impact dan yang lain sepintas lalu saja. Untuk itu mari kita bedah online activism di Indonesia yang punya impact sangat kuat.  ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter" src="http://www.gcommerce.co.za/story/vote_online.gif" alt="" width="504" height="300" /><br />
Mulai dari gerakan mensupport autism sampai gerakan untuk menambah ruang terbuka public. Selamat datang di era online activism.</p>
<p>Secara teknik memulai online activism sangatlah mudah. Yang dibutuhkan adalah sebuah koneksi internet dan anda dapat segera membuat fan page atau cause page di facebook. Atau juga menggunakan twitter dengan membuat hash tag (#). Anda tidak perlu punya banyak friends di facebook ataupun twitter, anda pun tidak harus menjadi seorang blogger terkenal.</p>
<p>Namun apa yang menjadi benang merah dari online activism yang berhasil. Kenapa beberapa gerakan online lebih berhasil dari yang lain dalam menggaet banyak supporter. Lebih jauh lagi kenapa beberapa gerakan menimbulkan impact dan yang lain sepintas lalu saja. Untuk itu mari kita bedah online activism di Indonesia yang punya impact sangat kuat.</p>
<p>Prita Mulyasari<br />
Hanya karena mengirimkan sebuah email tentang buruknya perawatan yang ia terima dari sebuah rumah sakit terkenal ke sebuah milis yang berisikan 20 anggota, ibu Prita harus mendekam di rumah tahanan selama hampir satu bulan. Tuduhan yang dilayangkan pihak rumah sakit adalah pencemaran nama baik. Berita tersebut sempat dimuat beberapa media masa, namun sampai ketika seorang blogger berinisiatif membuat cause page “bebaskan ibu prita mulyasari” orang-orang mulai menaruh perhatian kepada kasus ini.</p>
<p><span id="more-139"></span>Timingnya pun sangat sempurna, sebelum pemilihan presiden 2009. Kontan hal ini dipolitisir menjadi kritikan bagi pemerintah maupun bobroknya sistim peradilan di Indonesia. Segera setelah cause page ini menarik banyak supporter, tekanan masyarakat pun bertambah dan ibu Prita ditangguhkan penahanannya.</p>
<p>Malang bagi rumah sakit yang enggan menaruh simpati, sejumlah kontrak besar pun serta merta dibatalkan dan rumah sakit itu pun kehilangan pelanggan, bahkan sampai tak satupun pasien berani menginjakkan kaki di rumah sakit itu. Lagipula siapa yang mau nasibnya berakhir seperti ibu Prita.</p>
<p>&#8220;A man with a hammer sees all problem as nails,&#8221; dengan percaya diri, merasa tak perlu mendengarkan aspirasi masyarakat, Omni teruskan kasusnya perdata sekaligus pidana. Dari legal standpoint mungkin ibu Prita bersalah tapi masalah ini sudah menyentuh ranah sosial. Kontan saja saat PT Tanggerang memerintahkan Prita membayar ganti rugi Rp 204 juta semua orang patungan menyumbang koin untuk membuat malu Omni. Ikuti perkembangannya di http://koinkeadilan.com</p>
<p>#IndonesiaUnite<br />
Bom kuningan tahun 2009, benar-benar meruntuhkan citra Indonesia, apalagi setelah hampir lima tahun kita hidup tanpa serangan teroris. Bahkan tim sepakbola raksasa Manchester United membatalkan kunjungannya ke Indonesia. Walhasil, para pedagang kecil yang berbulan-bulan sebelumnya sudah mempersiapkan merchandise berbau setan merah pun merugi, karena dagangannya sudah barang tentu tidak laku.</p>
<p>Segerombolan pemuda pun tak lalu diam menyikapi hal tersebut. Sesuatu harus dilakukan untuk para pedagang tersebut dan juga sekaligus menggugah jutaan rakyat Indonesia agar bersatu dan bangkit dari serangan terkutuk tersebut. Dari situlah Indonesia Unite, pelesetan dari Manchester United lahir.</p>
<p>Mulai dari sekedar trending topic di twitter sampai kaus bolak balik atau bolbal. Untuk urusan yang terakhir ini kaus-kaus Manchester United tersebut dibalik luar dalam dan disablon ulang menjadi Indonesia Unite.</p>
<p>Bibit and Chandra<br />
Ketika dua pimpinan KPK ini ditahan mabes polri rakyat tak tinggal diam. Bagi jutaan rakyat Indonesia penahanan Bibit dan Chandra adalah symbol pejuang anti-korupsi yang dikriminalisasi oleh salah satu institusi paling korup di Indonesia karena menjalankan tugasnya.</p>
<p>Sebelum gerakan facebook, dukungan bagi Bibit dan Chandra sporadis dilakukan mahasiswa dan LSM. Sementara jutaan orang Indonesia yang ingin berpartisipasi tidak terfasilitasi. Hampir dalam hitungan gerakan facebook ini terbentuk, sudah lebih dari seratus ribu orang mendukung. Ditambah lagi rekaman KPK yang diputar di Mahkamah Konstitusi disiarkan langsung oleh televisi-televisi nasional, makin menambah dugaan kriminalisasi dan kecurigaan masyrakat akan motif busuk dibalik penahanan Bibit dan Chandra.</p>
<p>Pemerintah segera membentuk tim 8 untuk menganalisa apa yang sebenarnya terjadi. Polisi pun segera menangguhkan penahanan, dan hampir setiap hari orang2 turun ke jalan dan memprotes proses hukum yang terjadi.</p>
<p>Tanggal 8 Desember kemarin publik mengalami kemenangan, Bibit dan Chandra kembali menjabat Wakil Ketua KPK.</p>
<p>Relevant<br />
Dalam bukunya “Beyond Buzz” Lois Kelly berulang kali menekankan pentingnya “meaning” atau “arti” sebuah campaign, tidak dalam artian luas dan retoris tetapi dalam artian personal dan simbolis. Singkat kata, why should I care?</p>
<p>Dukungan untuk Prita bukanlah dukungan bagi seorang ibu beranak dua. Gerakan ini mengandung signifikansi dan simbolisme yang luar biasa. Jutaan orang tergabung dalam milis yang jumlahnya juga tak kalah banyaknya. Tiap2 individu tersebut bisa jadi Prita-Prita berikutnya. Yang didukung atau yang diperjuangkan dalam gerakan mendukung Prita adalah kebebasan berekspresi dan kebebasan berpendapat yang dengan mudahnya dipasung oleh dalih-dalih pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan dan embel-embel lainnya.</p>
<p>Kasus ini juga begitu menarik perhatian karena menjadi wujud nyata keberpihakan system peradilan di Indonesia. Dalam kata lain, kasus ini adalah kasus David melawan Goliath.</p>
<p>Lain halnya dengan Bibit dan Chandra. Jutaan orang sudah melihat kejanggalan proses hukum yang terjadi karena mereka berdua hampir setiap hari menghiasi muka surat kabar dan televisi di Indonesia. Gerakan facebook ini hanya mengubah kegundahan di masyarakat yang tadinya cair menjadi sesuatu yang konkret dan dapat dikuantifisir. Lebih dari sejuta orang mendukung Bibit dan Chandra.</p>
<p>Jika kita kalkulasikan bahwa hanya ada delapan juta orang Indonesia di Facebook dan penduduk Indonesia adalah 250 juta, sementara pendukung Bibit dan Chandra 1.5 juta orang maka angka real pendukung Bibit dan Chandra adalah 42.7 juta orang.</p>
<p>Usaha yang diperlukan untuk menjaring 1 juta orang memang tidaklah begitu besar karena memang orang-orang merasakan hal yang sama. Terbukti dengan satu minggu, target satu juta terkumpul dengan mudahnya.</p>
<p>Reaching out to the right people<br />
Kasus Prita maupun kasus Bibit dan Chandra adalah kasus yang mudah dalam online activism, pesan yang ingin sampaikan menyentuh hampir seluruh elemen masyarakat di Indonesia tanpa batasan usia, pekerjaan, status ekonomi maupun geografis. Tetapi bagaimana jika pesan yang hendak disampaikan lebih segmented?</p>
<p>Menyentuh orang-orang yang tepat adalah langkah yang paling krusial. InDiPR telah menjelaskan dib log sebelumnya bahwa tahapan yang orang lalui di sebuah komunitas adalah aware &#8211; interest – exciting &#8211; important – valuable. Saat orang pertama join komunitas karena disuruh teman atau karena dengar dari saudara dan ada keinginan untuk bergabung. Tetapi kenapa orang berpartisipasi adalah karena komunitas itu menarik sehingga akhirnya menjadi bagian dari hidup anda.</p>
<p>Tingkat terakhir adalah ketika komunitas itu dapat memberikan value ke kehidupan mereka masing-masing. Pada saat inilah mereka mulai menceburkan diri menjadi aktif dan meneruskan pesan yang anda ingin sampaikan.</p>
<p>Untuk cause grup “selamatkan orangutan” misalnya anda tidak mulai dengan spamming ke seribu orang dengan harapan satu and dua orang akan bergabung. Lebih efektif jika kita mengundang beberapa orang yang memang aktif atau punya atensi lebih ke konservasi satwa langka, kritis terhadap perdangangan satwa, eco-warrior, eco-activists dan eco-journalists. Orang-orang ini kita harapkan bisa menjadi core group dan meneruskan pesan yang kita bawa.</p>
<p>Setelah itu baru second layer orang-orang yang menganggap pesan yang kita bawa important, exiciting, interesting dan terakhir yang sekedar ingin tahu saja.</p>
<p>What’s next? Interaction<br />
Sering kali poin ini yang kita lupakan, selanjutnya apa? Apakah dengan menarik jutaan pendukung lantas tujuan kita tercapai atau advokasi kita berhenti? Jangan biarkan ini menjadi after thought, what’s next harus menjadi bagian dari strategi besar anda memulai online activism. Dengan jutaan cause page di facebook, activism anda dengan mudahnya hilang dilupakan orang. Harus ada sesuatu yang lebih untuk menjaga awareness level.</p>
<p>Sub poin pertama adalah kontribusi. Bagaimana kita dapat menstimulasi semua anggota untuk memberikan kontribusinya? Ketika anda menulis di wall, tentunya anda akan sangat menghargai bila wall post anda dibalas atau ditimpali, begitu juga para pendukung dari cause page yang anda buat. Jangan pikir hanya dengan mengirimkan newsletter tiap bulan, interest atau bahkan awareness level mereka akan terjaga. Kuncinya adalah Engage, Interact and Gratify. Jadilah yang pertama untuk menyapa, yang pertama menjawab dan yang pertama untuk berterima kasih.</p>
<p>Sub poin kedua dan masih erat kaitannya dengan sub poin pertama adalah fasilitasikan semua medium berekspresi. Ada beberapa orang yang memang lahir untuk turun ke jalanan dan berdemonstrasi. Ada juga yang lebih cocok untuk advokasi dan melobi. Ada yang suka melakukan kontribusi nyata dan menjadi sukarelawan. Ada yang cuma bisa menyuarakan kepedulian mereka melalui seni, musik, puisi dan tari. Apapun itu fasilitasikan.</p>
<p>Control<br />
Yang saya maksudkan di sini adalah moderasi. Moderator yang baik bisa diidentikkan sebagai dinamisator dan stabilisator. Ketika cause anda sudah mulai adem ayem, moderator berfungsi sebagai pembakar semangat, dan ketika situasi mulai panas karena friksi moderator yang baik harus bisa menenangkan suasana.</p>
<p>Satu hal yang harus diantisipasi adalah potensi adanya “counter activism”. Bisa saja cause group anda diboncengi oleh penumpang gelap yang punya hidden agenda, sangat mungkin oleh orang-orang yang terganggu dengan pesan yang anda bawa. Orang orang ini punya tujuan untuk membelokkan arah tujuan cause, memperkeruh suasana di dalam, dan menghancurkan aktifitas anda.</p>
<p>Bisa saja secara teknis anda dihack atau lewat propaganda dan counter activity dengan pesan pesan dan teknik adu domba. Lagi lagi peran moderator sangat penting. Tugas moderator adalah mendeteksi, mengisolir dan memecahkan masalah. Jangan menjadi draconian, komunikasi yang terbuka dan dialog yang seimbang dua arah adalah solusinya.</p>
<p>Offline activity<br />
Dengan begitu banyaknya kegiatan online orang akan cepat lupa. Harus saya akui saya sudah pernah bergabung di ratusan milis dan ratusan cause group, fan page dan sebagainya, dan saya tidak pernah aktif di semuanya. Satu hal adalah kurangnya offline activity. Saya yakin dengan begitu banyaknya orang yang percaya dengan pesan yang anda bawa, orang akan sangat tertarik untuk memberikan kontribusi yang nyata.</p>
<p>Online donation mungkin akan berfungsi di negara lain. Tapi di Indonesia, banyaknya credit card fraud, identity theft, ribetnya proses yang dilakukan membuat kebanyakan online donation tidak begitu efektif.</p>
<p>Tanpa adanya offline activity, cause anda tak lebih dari sekedar slogan, fad dan newsletter anda akan jadi sekedar spam yang membuat inbox anda semakin penuh. Buatlah kegiatan yang relevan, menyenangkan, interaktif dan rutin.<br />
Lompatan ke media tradisional<br />
Kalau tidak ada cause group bebaskan ibu Prita, mungkin saja kasus ini akan menjadi sekedar statistik belaka. Satu dari sekian banyak empiris yang menunjukkan ketimpangan hukum di Indonesia, satu dari sekian banyak studi kasus yang dibahas di kuliah-kuliah hukum. Karena ada facebook, orang-orang media, wartawan dan jurnalis menjadi aware. Oh ternyata ada kasus yang menarik nih. Sebelum ada cause group, cuma ada satu media yang mengikuti kasus ini, sesudah itu ribuan.</p>
<p>Ingat, wartawan banyak yang ikutan facebook dan wartawan juga banyak di twitter. Yang penting adalah pastikan ada contact person yang jelas.</p>
<p>Tentu saja kita bisa pitch story kita ke media. Saya ikut milis puisi jaman belum ada facebook dan twitter dan kita pitch story kita ke Kompas, dan “aneh”nya mereka tertarik. Sejak liputan Kompas milis yang tadinya 300 orang bertumbuh pesat menjadi 2,000 dan menjadi salah satu komunitas puisi yang patut diacungi jempol dan berpengaruh di Indonesia. Namanya Bunga Matahari.</p>
<p>Synergy<br />
Aktifitas online harus sinergis dengan aktifitas offline, begitu juga sebaliknya. Karena offline activity kita menjaring lebih banyak member. Tetapi semua itu tiada arti kalau online activity kita terbengkalai, konten tidak update, isi itu-itu saja. Sebaliknya kalau kita fokus di online terus orang juga akan jenuh dan hanya jadi slogan basa-basi, dan member akan stagnant.</p>
<p>Implication<br />
Yang berfikir cause group hanyalah aktifitas orang iseng itu salah besar. Dengan contoh di atas, jika diasuh dengan benar dan dengan strategi yang tepat kasus yang tadinya dalam pandangan sempit hukum mendapat perspektif sosial. Hukum sudah seharusnya menjadi refleksi keadilan di masyarakat dan publiklah yang akhirnya menentukan mana yang salah dan mana yang benar.</p>
<p>Begitu juga dengan isu lainnya seperti keadilan sosial, lingkungan hidup dan kesehatan online activism membuat orang yang tadinya tidak aware menjadi aware yang tadinya tidak tertarik menjadi tertarik.</p>
<p>If you wanna make the world a better place, take a look at yourself and make the change – Michael Jackson</p>
<p>Nivell is a Viral Communicator for InDiPR. He tweets at <a href="http://twitter.com/nivellism">http://twitter.com/nivellism</a></p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Findipr.com%2F2009%2F12%2F09%2Fthe-rise-of-online-activism%2F';
  addthis_title  = 'The+Rise+of+Online+Activism';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indipr.com/2009/12/09/the-rise-of-online-activism/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yahoo! Meme masuk Indonesia dengan nama baru</title>
		<link>http://indipr.com/2009/11/12/yahoo-meme-masuk-indonesia-dengan-nama-baru/</link>
		<comments>http://indipr.com/2009/11/12/yahoo-meme-masuk-indonesia-dengan-nama-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 07:19:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nivell</dc:creator>
				<category><![CDATA[Digital PR]]></category>
		<category><![CDATA[digital]]></category>
		<category><![CDATA[meme]]></category>
		<category><![CDATA[mim]]></category>
		<category><![CDATA[public]]></category>
		<category><![CDATA[relations]]></category>
		<category><![CDATA[Yahoo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indipr.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[Yahoo! Meme akan merambah Indonesia, sumber menyebutkan karena konotasi namanya yang sedikit (Ehm..) di bahasa Indonesia, Yahoo! akan mengubah namanya menjadi Yahoo! Mim. Karena memang bacanya "mim"


Nivell is a Viral Communicator for InDiPR. He tweets at http://twitter.com/nivellism]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://virgintech.org/wp-content/uploads/2009/10/yahoo_meme.jpg"><img class="alignnone" src="http://virgintech.org/wp-content/uploads/2009/10/yahoo_meme.jpg" alt="" width="446" height="325" /></a></p>
<p>Yahoo! Meme akan merambah Indonesia, sumber menyebutkan karena konotasi namanya yang sedikit (Ehm..) di bahasa Indonesia, Yahoo! akan mengubah namanya menjadi Yahoo! Mim. Karena memang bacanya &#8220;mim&#8221;</p>
<p>Meme adalah sebuah microblogging site yang mirip dengan Twitter. Awal mulanya application ini cuma tersedia di Portugal dan sejak beberapa bulan terakhir muncul juga di bahasa Spanyol dan Inggris.</p>
<p>Yahoo! telah menolak mentah2 bahwa Meme ikut2an twitter, salah satu perbedaan mencolok adalah lebih banyaknya karakter dalam satu post (2000 sementara twitter hanya 140). Banyak yang mengaku platform ini lebih baik untuk multimedia sharing dan cross-platform daripada twitter yang sangat terbatas. Meme juga menggabungkan pelbagai fasilitas seperti foto dan video dalam satu platform. Bandingkan dengan twitter yang punya apps terpisah untuk foto dan videonya. Singkat kata, its all one stop-one click publishing.</p>
<p>Tapi sayang sekali Mim masih sepi. Apalagi di Indonesia, kalau ada yang juga punya mim add saya yah di <a href="http://mim.yahoo.com/nivellism">http://mim.yahoo.com/nivellism/</a></p>
<p>Dalam waktu bersamaan, Twitter juga mengumumkan kerjasama dengan provider AXIS dalam menyediakan Tweet via SMS (bukannya dari dulu udah bisa yah?). Tetapi kalau dulu kita dikenakan tarif SMS international ke inggris, sekarang pengguna axis cukup SMS &#8220;START&#8221; ke 89887 dan tarifnya lokal tentunya.</p>
<p>Nivell is a Viral Communicator for InDiPR. He tweets at <a href="http://twitter.com/nivellism">http://twitter.com/nivellism</a></p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Findipr.com%2F2009%2F11%2F12%2Fyahoo-meme-masuk-indonesia-dengan-nama-baru%2F';
  addthis_title  = 'Yahoo%21+Meme+masuk+Indonesia+dengan+nama+baru';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indipr.com/2009/11/12/yahoo-meme-masuk-indonesia-dengan-nama-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Digital PR: Grunig’s Ideal Platform in Achieving Excellence in Communications</title>
		<link>http://indipr.com/2009/11/10/digital-pr-grunig%e2%80%99s-ideal-platform-in-achieving-excellence-in-communications/</link>
		<comments>http://indipr.com/2009/11/10/digital-pr-grunig%e2%80%99s-ideal-platform-in-achieving-excellence-in-communications/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 08:13:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nivell</dc:creator>
				<category><![CDATA[Digital PR]]></category>
		<category><![CDATA[digital]]></category>
		<category><![CDATA[Grunig]]></category>
		<category><![CDATA[James]]></category>
		<category><![CDATA[public]]></category>
		<category><![CDATA[relations]]></category>
		<category><![CDATA[Teori]]></category>
		<category><![CDATA[Theory]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indipr.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[saat Grunig menulis bukunya Excellence in PR and Comm Management di tahun 1989, dia tidak pernah membayangkan apa itu blog, apa itu social networking site, apa itu multimedia content sharing dan sebagainya. Di bukunya dia menjelaskan metoda komunikasi yang simetris sebagai communication research dan media monitoring dan tidak terbayangkan bahwa dengan blog walking kita bisa scanning isu apa yang berkembang di masyarakat, dengan facebook kita bisa tes komunikasi kita atau terjadinya sebuah FGD virtual dengan forum atau chat room. Tetapi yang masih relevan dari dulu sampai sekarang adalah PR is more than just informing, it is communicating both ways.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.toastmasters.org/OtherImages/VPPR.aspx"><img class="aligncenter" src="http://www.toastmasters.org/OtherImages/VPPR.aspx" alt="" width="353" height="350" /></a></p>
<p>Tahun ini InDi sangat beruntung bisa bekerja dengan orang-orang yang sangat kompeten di bidang Digital Public Relations dan juga sangat beruntung dapat berbagi keahlian kami dengan beberapa klien.</p>
<p>Sudah mulai banyak perusahaan yang mulai memahami pentingnya Digital Public Relations. Kalau di awal tahun menjelaskan apa itu digital, bagaimana kerjanya dan bagaimana efeknya terhadap reputasi perusahaan merupakan tugas yang tidak mudah, sekarang kami lebih bekerja keras pada strategi, taktik dan kreatifitas untuk meyakinkan mereka. Kalau awal tahun kami sering menghadapi orang2 yang mungkin saja tidak punya akun facebook dan sudah terbiasa menggunakan traditional media sekarang kami menemukan reaksi2 seperti “memang ini yang saya cari.”</p>
<p>Seperti halnya pedagang kaki lima ramai berdatangan ke kerumunan orang walaupun itu demo atau tempat bencana, perusahaan cenderung menggunakan platform2 yang sering digunakan masyarakat. Kalau dulu perusahaan2 punya akun facebook, sekarang setelah twitter mulai populer mereka pun berbondong bondong merambah microblogging site itu.</p>
<p><span id="more-132"></span>Namun ada beberapa hal menarik yang menjadi catatan kami.</p>
<p>It’s better as a Digital PR consultant to pitch our ideas to Brand Managers rather than PR Departments.</p>
<p>Ini fenomena menarik, BM atau mungkin Marketing Communications punya pandangan yang lebih terbuka terhadap digital PR, sementara PR dept sendiri cenderung skeptis. Saya berdasarkan kesimpulan ini berdasarkan beberapa pengalaman InDi dan mungkin tidak adil juga untuk digeneralisirkan, tetapi mungkin karena PR execs di perusahaan sudah terlalu terbiasa dengan story pitching, press conference, press release, media invitation and so on, that’s all they know how to do.</p>
<p>Padahal dari semua teori yang saya baca, PR is more than just Media Relations. James Grunig mendeskripsikan perjalanan PR mulai sebagai press agentry, public information, two way asymmetrical dan two way symmetrical. Yang terakhir ini adalah cita cita semua praktisi PR, karena kita tidak hanya memberikan informasi tetapi juga membutuhkan informasi dari public untuk sebagai acuan strategi kita. Karena teori ini dibuat sebelum meledaknya internet, saya tambahkan lagi pentingnya interaksi dengan public.</p>
<p>Mungkin saat Grunig menulis bukunya Excellence in PR and Comm Management di tahun 1989, dia tidak pernah membayangkan apa itu blog, apa itu social networking site, apa itu multimedia content sharing dan sebagainya. Di bukunya dia menjelaskan metoda komunikasi yang simetris sebagai communication research dan media monitoring dan tidak terbayangkan bahwa dengan blog walking kita bisa scanning isu apa yang berkembang di masyarakat, dengan facebook kita bisa tes komunikasi kita atau terjadinya sebuah FGD virtual dengan forum atau chat room. Tetapi yang masih relevan dari dulu sampai sekarang adalah PR is more than just informing, it is communicating both ways.</p>
<p>Grunig juga menjelaskan pentingnya membentuk komunikasi dengan memahami dulu apa yang diinginkan publik. Dengan begitu kompleksnya struktur public dan bergesernya pola konsumsi media dan bahkan cara mereka berkomunikasi PR harus merambah ke dunia Digital. Komunikasi sudah begitu personal, hampir tidak ada lagi gate keeper, semua informasi tersedia “one click away”. Ditambah lagi dengan makin demokratisnya distribusi informasi dengan blog, social network dan microblog, semua orang bisa jadi wartawan, editor sekaligus publishernya. This is an “evolve or die” situation buat semua PR profesional.</p>
<p>Sampailah kita ke poin kedua. Banyak sekali perusahaan yang melompat ke dunia digital tanpa memikirkan bagaimana cara kerjanya, dan boleh dibilang tanpa melihat sesuatu yang menjadi kepanjangan InDi PR, INTERACTIVE digital public relations. Terlalu banyak perusahaan besar, menengah maupun kecil melupakan bahwa “interaksi” adalah kunci keberhasilan kampanye digital.</p>
<p>Java Musikindo mungkin salah satu yang berhasil membuat lompatan tersebut. Dengan membuat twitter account, dalam waktu dua bulan saja mereka sudah punya 10.628 followers. Resepnya sudah barang pasti adalah mereka sebisa mungkin merespon semua replies dan direct messages, no matter how ridiculous. Dengan bahasa yang akrab dengan para audiencenya mereka dapat dengan singkat merebut hati orang. Walhasil, dengan mudahnya mereka mempromosikan suatu pre-sale konser yang ludes dalam hitungan hari. Komunikasi terjadi dua arah, dan audience mereka tidak pernah merasa sebagai objek marketing belaka tetapi sebagai sebuah komunitas.</p>
<p>Bandingkan dengan sebuah perusahaan rekaman yang sama sama punya akun twitter dan hanya memposting info2 terbaru dan tidak peduli untuk merespon pesan pengikutnya. Bisa2 dituduh spamming, bahkan saya saking sebelnya saya unfollow. “Menuh2in timeline aja sih!”</p>
<p>The lesson to be learned is, before you talk you have to learn how to listen.</p>
<p>Saya benar-benar kagum dengan Grunig, bahkan di zaman web 2.0 teorinya yang sudah lebih dari 20 tahun masih terasa relevansinya.</p>
<p>Interdependence: perusahaan tidak dapat lagi memilah2 publiknya karena semua saling bergantungan satu sama lain.</p>
<p>Open System: seiring dengan makin demokratisnya pemerolehan informasi, Perusahaan harus berevolusi dan mendengarkan masyarakat. Companies no longer strive to shape public opinion, it is the public opinion that shapes a company.</p>
<p>Equity: semua orang, apapun latar belakangnya punya suara yang sama proporsinya dengan orang lain.</p>
<p>Autonomy: semua orang punya kreatifitas dan ide2. Semua orang ingin didengar. Sementara platform2 lain komunikasi dan diseminasi informasi adalah hak eksklusif beberapa orang saja, digital memungkin siapa saja untuk didengar.</p>
<p>Innovation: perusahaan harus fleksibel terhadap ide2 baru dan tidak melulu fokus pada tradisi.</p>
<p>Responsibility: ini yang harus menjadi peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis. Ada norma2 yang harus patuhi bagi semua orang, dan semua orang harus menerima konsekuensi dan bertanggung-jawab atas segala tindakannya. Teman saya banyak yang komplain karena facebook dan twitter diblokir kantor. Establish the rule: finish your job first, then write on your friend’s wall! Don’t tweet about office gossips or grudge against your fellow workers! Terapkan peraturan bagi semua, dari direktur hingga office boy, jangan blokir platformnya. Ada proxi, ada blackberry. People are smart, when there’s a will there’s a way.</p>
<p>Nivell is a Viral Communicator for InDiPR. He tweets at <a href="http://twitter.com/nivellism">http://twitter.com/nivellism</a></p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Findipr.com%2F2009%2F11%2F10%2Fdigital-pr-grunig%25e2%2580%2599s-ideal-platform-in-achieving-excellence-in-communications%2F';
  addthis_title  = 'Digital+PR%3A+Grunig%E2%80%99s+Ideal+Platform+in+Achieving+Excellence+in+Communications';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indipr.com/2009/11/10/digital-pr-grunig%e2%80%99s-ideal-platform-in-achieving-excellence-in-communications/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Intro to Digital PR, University Presentation</title>
		<link>http://indipr.com/2009/10/01/intro-to-digital-pr-university-presentation/</link>
		<comments>http://indipr.com/2009/10/01/intro-to-digital-pr-university-presentation/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 04:12:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nivell</dc:creator>
				<category><![CDATA[Digital PR]]></category>
		<category><![CDATA[digital]]></category>
		<category><![CDATA[Interactive]]></category>
		<category><![CDATA[lecture]]></category>
		<category><![CDATA[PR]]></category>
		<category><![CDATA[presentation]]></category>
		<category><![CDATA[Viral]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indipr.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Intro to Digital PR, University Presentation]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="__ss_1642342" style="width: 425px; text-align: left;"><a style="font:14px Helvetica,Arial,Sans-serif;display:block;margin:12px 0 3px 0;text-decoration:underline;" title="Presentation for Sahid University" href="http://www.slideshare.net/nivellism/presentation-for-sahid-university">Presentation for Sahid University</a><object style="margin:0px" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="355" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=kuliah-090626012040-phpapp01&amp;stripped_title=presentation-for-sahid-university" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed style="margin:0px" type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=kuliah-090626012040-phpapp01&amp;stripped_title=presentation-for-sahid-university" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<div style="font-size: 11px; font-family: tahoma,arial; height: 26px; padding-top: 2px;">View more <a style="text-decoration:underline;" href="http://www.slideshare.net/">presentations</a> from <a style="text-decoration:underline;" href="http://www.slideshare.net/nivellism">Nivell Rayda</a>.</div>
<div style="font-size: 11px; font-family: tahoma,arial; height: 26px; padding-top: 2px;"></div>
<div style="font-size: 11px; font-family: tahoma,arial; height: 26px; padding-top: 2px;">Nivell is a Viral Communicator for InDiPR. He tweets at <a href="http://twitter.com/nivellism">http://twitter.com/nivellism</a></div>
</div>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Findipr.com%2F2009%2F10%2F01%2Fintro-to-digital-pr-university-presentation%2F';
  addthis_title  = 'Intro+to+Digital+PR%2C+University+Presentation';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indipr.com/2009/10/01/intro-to-digital-pr-university-presentation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Digital PR people will talk about Prita for a looongg time</title>
		<link>http://indipr.com/2009/06/01/digital-pr-people-will-talk-of-prita-for-a-looongg-time/</link>
		<comments>http://indipr.com/2009/06/01/digital-pr-people-will-talk-of-prita-for-a-looongg-time/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 19:15:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nivell</dc:creator>
				<category><![CDATA[Digital PR]]></category>
		<category><![CDATA[Digital Public Relations]]></category>
		<category><![CDATA[Mulyasari]]></category>
		<category><![CDATA[Omni]]></category>
		<category><![CDATA[PR]]></category>
		<category><![CDATA[Prita]]></category>
		<category><![CDATA[RS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indipr.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Adalah Prita Mulyasari, ibu dengan dua anak, harus rela mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang sebagai tersangka kasus pencemaran nama baik Rumah Sakit Internasional Omni Hospital, Alam Sutra, Serpong, Tangerang Selatan.
Pasien mana yang ingin diperlakukan tidak baik? Itu yang dirasakan Prita ketika dirawat di UGD 7 Agustus 2008. Merasa keluhannya diacuhkan ia kirim email ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Adalah Prita Mulyasari, ibu dengan dua anak, <a href="http://korantempo.com/korantempo/koran/2009/05/28/headline/krn.20090528.166458.id.html" target="_blank">harus</a> rela mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang sebagai tersangka kasus pencemaran nama baik Rumah Sakit Internasional Omni Hospital, Alam Sutra, Serpong, Tangerang Selatan.</p>
<p>Pasien mana yang ingin diperlakukan tidak baik? Itu yang dirasakan Prita ketika dirawat di UGD 7 Agustus 2008. Merasa keluhannya diacuhkan ia kirim email ke mailing list dan surat pembaca ke <a href="http://detik.com">detik.com</a></p>
<p>Lalu keluhan Prita menyebar seperti virus. Keluhannya kemudian beredar ke berbagai milis dan forum internet, bahkan muncul di berbagai blog. Coba google “<a href="http://www.google.com/search?sourceid=ie7&amp;q=RS+Omni&amp;rls=com.microsoft:*:IE-SearchBox&amp;ie=UTF-8&amp;oe=UTF-8&amp;rlz=1I7ACAW_en___ID314">RS Omni</a>” yang keluar bukan website Omni tapi cerita Prita dan keluhannya.</p>
<p>Instead of engaging dengan Prita. Mereka menempuh jalur hukum, apalagi kalau bukan jurus “pencemaran nama baik”. Sebuah jurus yang sepertinya bisa melegitimasi apa saja. Saya cuma berharap PN Tangerang dapat melihat kasus ini dengan bijak, dan membebaskan Prita dari segala tuduhan.</p>
<p>Kalau sampai dihukum, yang terancam adalah semua hak konsumen untuk menyatakan pendapat, kritik dan saran. Pesan saya simple: buat apa ke rumah sakit yang tak mau mendengarkan kritik dan saran dari konsumennya.</p>
<p>Kasus ini sudah saya baca beberapa hari yang lalu di <a href="http://detik.com">detik.com</a>, dan <a href="http://vivanews.com/">http://vivanews.com</a> dan kemudian saya temukan lagi di<a href="http://virtual.co.id/">http://virtual.co.id</a>, tadi saya baca <a href="http://indipr.com/wp-admin/twitter.com">twitter</a> dan dua teman saya mengundang saya masuk <a href="http://apps.facebook.com/causes/290597/4133145?m=b588abf1">facebook cause</a>, dan ternyata sudah ada 5000 orang terdaftar di sana. Status teman2 saya juga “Prita this” “Prita that”</p>
<p>Berita yang satu ini bukan menunjukan betapa rendahnya kepedulian produsen kepada media online, kepada good corporate governance, kepada prinsip2 kehumasan. Berita yang satu ini bukan menunjukan betapa rendahnya kepedulian produsen kepada konsumen….titik.</p>
<p>Kasus studi ini akan menjadi pelajaran menarik di sekolah2 kehumasan di Indonesia, bertahun2 ke depan. Bertahun-tahun-tahun-tahuuuuunnnn ke depan.</p>
<p>Kalau <a href="http://indipr.com/">InDiPR</a> handle RS Omni, saya akan omong baik2 dengan ibu Prita, cut out a deal. Minta dengan hormat ibu Prita untuk tulis di milis yang sama bahwa masalahnya udah selesai, Lalu saya akan forward email Prita ke milis2 lain, forum dan tinggalkan komen di blog2 tersebut. Everybody’s happy. Total cost: a big smile, VIP treatment, lunch out, some time and patience, a laptop with a good internet connection. ROI: problem is solved, Prita actually recommends her friends to go to Omni.</p>
<p>Yang dilakukan Omni adalah jalur hukum. Total cost: expensive lawyer’s fee, case that drags on for months, a big headache, a drop in patient, losses in potential patient, bad image, a reputation as a hospital that doesn’t care. ROI: none.</p>
<p>Nivell is a Viral Communicator for InDiPR. He tweets at <a href="http://twitter.com/nivellism">http://twitter.com/nivellism</a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-spacerun: yes;"> </span><span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Findipr.com%2F2009%2F06%2F01%2Fdigital-pr-people-will-talk-of-prita-for-a-looongg-time%2F';
  addthis_title  = 'Digital+PR+people+will+talk+about+Prita+for+a+looongg+time';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indipr.com/2009/06/01/digital-pr-people-will-talk-of-prita-for-a-looongg-time/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesian Blogger Survey</title>
		<link>http://indipr.com/2009/05/21/indonesian-blogger-survey/</link>
		<comments>http://indipr.com/2009/05/21/indonesian-blogger-survey/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 17:43:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nivell</dc:creator>
				<category><![CDATA[Digital PR]]></category>
		<category><![CDATA[survey]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[blogger]]></category>
		<category><![CDATA[digital]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[public]]></category>
		<category><![CDATA[relations]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indipr.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Check out this very cool and very important survey by our friends from Indopacific Edelman. The survey provides an insight to who the bloggers are, what their demographic, what they write, how they engage, social media online presence. I think it is a wonderful insight for companies thinking about diving in the digital PR world. It definitely better shape up our strategies here at InDiPR. Cuddoosss guys, Indonesia thanked you. 
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="__ss_1459388" style="width: 425px; text-align: left;"><a style="font:14px Helvetica,Arial,Sans-serif;display:block;margin:12px 0 3px 0;text-decoration:underline;" title="Final Report Blogger Survey May09 Fresh!" href="http://www.slideshare.net/amriltg/final-report-blogger-survey-may09-fresh?type=powerpoint">Final Report Blogger Survey May09 Fresh!</a><object width="425" height="355" data="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=finalreportbloggersurveymay09-fresh-090519111557-phpapp02&amp;stripped_title=final-report-blogger-survey-may09-fresh" type="application/x-shockwave-flash"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=finalreportbloggersurveymay09-fresh-090519111557-phpapp02&amp;stripped_title=final-report-blogger-survey-may09-fresh" /><param name="allowfullscreen" value="true" /></object></p>
<div style="font-size: 11px; padding-top: 2px; font-family: tahoma,arial; height: 26px;">View more <a style="text-decoration:underline;" href="http://www.slideshare.net/">presentations</a> from <a style="text-decoration:underline;" href="http://www.slideshare.net/amriltg">Amril Taufik gobel</a>.</div>
</div>
<p>Check out this very cool and very important survey by our friends from Indopacific Edelman. The survey provides an insight to who the bloggers are, what their demographic, what they write, how they engage, social media online presence. I think it is a wonderful insight for companies thinking about diving in the digital PR world. It definitely better shape up our strategies here at InDiPR. Cuddoosss guys, Indonesia thanked you.</p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Findipr.com%2F2009%2F05%2F21%2Findonesian-blogger-survey%2F';
  addthis_title  = 'Indonesian+Blogger+Survey';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indipr.com/2009/05/21/indonesian-blogger-survey/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Digital PR Censorship in China</title>
		<link>http://indipr.com/2009/05/18/digital-pr-censorship-in-china/</link>
		<comments>http://indipr.com/2009/05/18/digital-pr-censorship-in-china/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 12:01:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nivell</dc:creator>
				<category><![CDATA[Digital PR]]></category>
		<category><![CDATA[censorship]]></category>
		<category><![CDATA[china]]></category>
		<category><![CDATA[Digital Public Relations]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indipr.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Wah, China memang edan. Perusahaan digital PR di sana, ketimbang melakukan komunikasi dua arah yang saling menguntungkan, dengan cara kreatif merangkul publik mereka. Mereka tanpa ba-bi-bu langsung mensensor komentar negatif terhadap klien mereka dan menggantinya dengan pesan2 positif.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://1.bp.blogspot.com/_6DZBoQNQHPc/SSiwzzsP70I/AAAAAAAAAKk/Nc2bWddN6Eo/s400/internet_censorship.jpg"><img class="alignnone" src="http://1.bp.blogspot.com/_6DZBoQNQHPc/SSiwzzsP70I/AAAAAAAAAKk/Nc2bWddN6Eo/s400/internet_censorship.jpg" alt="" width="390" height="351" /></a></p>
<p>Wah, China memang edan. Perusahaan digital PR di sana, ketimbang melakukan komunikasi dua arah yang saling menguntungkan, dengan cara kreatif merangkul publik mereka. Mereka tanpa ba-bi-bu langsung mensensor komentar negatif terhadap klien mereka dan menggantinya dengan pesan2 positif.</p>
<p>Berikut artikel dari <a href="http://dengmengwei.wordpress.com/2009/05/11/censorship-reaches-to-digital-pr-industry-in-china/">dengmengwei.wordpress.com</a></p>
<p><em>I assume most people know that sensitive topics in China are often automatically rejected if they trigger a keyword filter. Sometimes, they’re deleted by human censors employed by Internet companies. Now, the censorship reaches digital PR industry in China!</em></p>
<p><em>Recently, Southern City Daily carried an <a href="http://www.cnbeta.com/articles/83436.htm" target="_blank">article</a> on a rising number of China’s digital PR agencies delete negative articles and posts for their clients. According to the article, organizations or individuals claiming to be PR agencies are offering to delete such negative contents on request, asking for fees ranging from RMB10,000 ($1400) for major portals such as Sina.com and Sohu.com, to RMB1,000 ($140) for local Web sites.</em></p>
<p><em><span id="more-116"></span>The author of the article interviewed a couple of PR companies and found out that deleting negative comments for clients are becoming popular. Some companies made a larger benefit by deleting negative comments than do their regular projects.</em></p>
<p><em>The author also found out that the entire transaction was done over the web, with upfront cash deposited into a bank account.  The article also said that the only kind of news these companies won’t touch is anything government-related.</em></p>
<p><em>I feel angry after I read this article. I already held back my opinion about deleting sensitive topic that related to politics, now I can’t even post anything negative I experience with a product. Where’s the transparency?</em></p>
<script type="text/javascript">
  addthis_url    = 'http%3A%2F%2Findipr.com%2F2009%2F05%2F18%2Fdigital-pr-censorship-in-china%2F';
  addthis_title  = 'Digital+PR+Censorship+in+China';
  addthis_pub    = '';
</script><script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" ></script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indipr.com/2009/05/18/digital-pr-censorship-in-china/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
