Twitter Journalism

twitter journalism on Mumbai bomb attack

twitter journalism on Mumbai bomb attack

Saat ini saya lagi mengetik, sedikit lapar, dan agak pusing dari hujan tadi. Tapi tunggu dulu, itu lima detik yang lalu. Sekarang saya makan roti dan sudah tidak begitu pusing lagi. Tapi masih mengetik.

Itulah asiknya dunia twitter. Microblog yang menjawab pertanyaan: apa yang sedang kau lakukan sekarang. Sementara orang-orang menggunakan twitter untuk hal-hal yang tidak serius seperti ketemu dengan teman lama, atau bosan denger bos cuap-cuap di rapat, ada juga yang mulai memikirkan cara berkomunikasi di era web 3.0 ini untuk hal-hal yang lebih serius.

Welcome to twitter journalism.

Walau mungkin 140 karakter tidak akan mungkin menggantikan koran bahkan portal berita. Tweet journalist ataupun jurnalis yang twittering melaporkan hal-hal serius seperti live breaking news dan update-update terbaru. Hal yang aneh yang jarang ditemukan setiap hari sampai jalan mana yang macet.

Saya adalah korban baru tweet journalism. Walaupun sudah menjadi jurnalis agak lama dan twittering lebih lama lagi, baru kali ini saya menggabungkan keduanya.

Ternyata ide ini sudah ada sejak lama. ReadWriteWeb (RWW) sudah mengadvokasikan penggunaan twitter untuk news writing, walaupun banyak juga yang masih skeptis.

Menurut RWW twitter dapat:

Mendokumentasikan ide-ide tulisan yang tadinya terpisah-terpisah agar nantinya dikompilasikan dan dijadikan satu artikel yang panjang. Lumayan daripada menebang-nebang pohon untuk menghasilkan notes.

Interview atau feedback: hal ini juga dilakukan oleh Jakarta Globe, tempat alter-ego saya bekerja, dan banyak replies dari twitter yang akhirnya dimasukkan ke surat pembaca. Ada juga wartawan, di luar sana yang melempar pertanyaan ke publik dan responsnya dimasukkan menjadi artikel. Semacam online FGDs.

Jakarta Globe juga memakainya untuk quality check. Mereka dapat tahu berita apa yang hangat di bibir pembaca mereka. Seperti artikel saya di publikasi itu beberapa saat yang lalu: An Inside Peek into the World of Jakarta’s Illegal DVD trade. Quality assurance juga salah satu poin di RWW

Dan yang penting adalah promosi, baik untuk publikasinya sendiri dan bagi wartawan yang twittering ya promosi wartawan itu sendiri.

Nivell is a Viral Communicator for InDiPR. He tweets at http://twitter.com/nivellism

Politik dan Media Digital di Indonesia

Jum’at malam yang lalu, Jusuf Kalla mengundang sejumlah blogger untuk bertatap muka dengan beliau.

Dengan  NdoroKakung sebagai moderator, pembicaraan malam itu terasa cair. Selain ajang curhat bagi sebagian blogger akan beberapa hal mulai dari UU IT, pornografi di dunia maya, hingga masalah kesehatan di Tambalan, sebuah daerah terpencil di Sumatra, terdapat pula pertanyaan tentang alasan Bapak JK kembali mencalonkan diri dan apa ekspektasi beliau saat mengundang para nlogger tersebut.

Dalam menjawab pertanyaan terakhir di atas, beliau sangat diplomatis. Hanya ingin mendengar dan didengar.

Padahal, semua pun tahu, masa kampanye sedang berlangsung. Beberapa blogger pun menganggap bahwa acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian kampanye.

Namun, baik itu kampanye atau bukan, tak sedikit yang mengacungi jempol. Acara tersebut merupakan sebuah smart move. Belum ada politisi—paling tidak di Indonesia—yang mengadakan pendekatan serupa terhadap blogger.

Kalaupun ada beberapa blogger yang terkesan mendukung partai tertentu dalam blog mereka, itu karena mereka memang partisan atau minimal pro terhadap partai tersebut. Tapi, yang diundang malam itu adalah blogger dari berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda, seperti para blogger   Anging MamiriEnda Nasution dan  Iwan Piliang.

Pertemuan tersebut, tak ayal lagi, dapat menjadi satu katalisator bahwa Media Digital telah mendapatkan tempat khusus di mata publik Indonesia. Keberadaan blogger semakin diperhitungkan. Kemampuan mereka untuk menggerakkan publik tak lagi dipandang sebelah mata.

Sebelum ini, beberapa perusahaan telah menggandeng blogger sebagai mitra mereka dalam membangun relasi publik ataupun promosi. Dan, sekarang, politikus pun turut membina hubungan dengan blogger. Tak diragukan lagi, Media Digital Indonesia akan semakin bergairah.

UK’s Online PR Benchmarking Report

E-consultancy baru saja merilis Online PR Industry Benchmarking Report, berdasarkan survey 300 marketers dan PR professional di UK dari in-house company dan konsultan

Dari hasil ditemukan bahwa Online PR/Digital PR menerima porsi yang sangat besar di annual budget komunikasi mereka. Perusahaan menghabiskan 39% PR activity budget mereka untuk online dan konsultan mengatakan 47% retainer mereka berasal dari Online PR/Digital PR.

Ini adalah tahun yang baik untuk Digital PR consultancy DI INGGRIS…heheheh…51% dari kerjaan online di-outsource ke konsultan namun masih dibagi dengan marketing agencies (29%) dan web companies (22%)

Bagaimana di Indonesia? Pengalaman InDi memperlihatkan ada empat jenis:

Tarif Internet Akan Turun

Wow ini baru kabar bagus. Tarif internet akan diturunkan 200 persen. Walaupun statement ini agak agak aneh, gimana bisa diturunkan 200 percent? Bearti perusahaan internet dong yang bayar kita??

Anyway, setelah beberapa kasus overlimit dan overcharged sampai dua juta. Saya putus hubungan dengan yang namanya Speedy itu dan rencananya beralih ke Biznet. Sementara ini pakai IM2,lemot sekali tetapi.

Internet should be free. Agree? 

Tarif Internet Diharapkan Turun 200 Persen

Liputan6.com, Jakarta: Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), M. Nuh, mengatakan, Kamis (19/2), pihaknya mendorong penurunan tarif internet, tidak sekadar 100 persen tetapi 200 persen pada tahun ini. Namun, ia menekankan bahwa penurunan itu harus realistis karena saat ini tarif internet sangat tergantung pada penyedia layanan internet (ISP).

ISP ada yang menawarkan tarif yang sangat mahal, tetapi sebaliknya ada ISP yang menawarkan tarif sangat murah. “Paling tidak, itu dipengaruhi oleh dua hal, yaitu investasi yang terlalu mahal dan captive market yang kecil sehingga tarif ritel naik,” katanya.

Karena itu, pihaknya akan mendorong agar market bisa semakin besar. “Internet itu digunakan oleh satu orang tetap sama dengan dipakai oleh 10 orang. Ini yang harus dicari trade off-nya,” katanya.

Menteri mengatakan, pihaknya tidak akan menerbitkan regulasi terkait penurunan tarif internet, tetapi lebih ke arah regulasi yang dapat mendorong agar tarif dapat turun. Contoh sederhana adalah mempermudah proses perizinan dan uji wilayah.
(YUS/ANTARA)

Preaching the Unconverted

InDi saat ini bersyukur banget karena sekarang banyak sekali perusahaan yang sudah mulai memikirkan soal digital campaign. InDi juga bersyukur banget kita udah ketemu seorang blogger yang mau bantuin kita dan kita harapkan bisa jadi ujung tombak dan salah satu Top Gun kita.

Seiring dengan makin banyaknya InDi bersentuhan dengan corporate red tape dan endless layers of executives yang harus kita yakinkan kita menemukan satu hal yang boleh dibilang sangat diantisipasikan namun sangat krusial untuk kita tangani.

How to preach to the unconverted? Bagaimana kita berhadapan dengan orang-orang yang mungkin saja belum tahu Digital PR itu apa? Apa yang bisa dilakukan oleh digital PR? Dan menjelaskan bahwa digital is more than just spamming.

Yang terakhir adalah hal yang sangat serius. Dari waktu ke waktu, InDi sudah bisa melihat dari kerutan di dahi mereka bahwa yang terpikirkan adalah the so called “e-mail blasting”. Gak bisa disalahkan sih. Mungkin itu yang biasa mereka lakukan dan itulah yang pertama kali terlintas di benak mereka.

Web 3.0

 

Web 2.0 was over before it began. Websites like these were simply mimetic, they tried to look like things that already existed. Facebook was just the tree house tin can and a string phone system with a bland graphical user interface. It was entirely too easy for people with some luck and some skill to take something that exists in the legacy world and put it into the new world of electronic media. Thus, things like electronic personal ads, phone books and police blotters might have made things easier, but they haven’t really revolutionized your life, they just made it faster.

The original pioneering spirit of the internet, even going back to the San Francisco MUD was to add something new and unique to social life, something that didn’t exist before. The MUD (multiple user domain) was something of a live space with a constant chat, a connection, space and place that hadn’t existed before.

Web 3.0 returns to this original model. Sites are beginning to emerge that don’t simply mimic what something in the material world does, users are ready for the internet to finally bring a product that is unique again. Web 3.0 sites aggregate and synthesize in ways that the social media gurus would never think possible. Your new internet era is about a smarter internet, a network that doesn’t simply call a pile of results, but a near living system that produces new content rather than simply organizing what already exists.

Web 2.0 was a retro-fit of the legacy media, Web 3.0 is the production of a truly new media.

As Jessi Hempel wrote “Financially speaking, Web 2.0 has been a total bust.” Web 2.0 tried to make money by taking legacy media products and grafting advertisements onto them. This business model is nothing really new. Plumbers did it for years putting ads in the yellow pages. Plumbers, exterminators and contractors are great – but they never promised the revolution in human interaction, much less the stock prices of the new media firms. Web 3.0 might finally be getting somewhere. (computer.howstuffworks)

Source: money.cnn Via: computer.howstuffworks

Capres on Facebook

Menyontek kesuksesan Barrack Obama dengan digital campaignnya, banyak politisi Indonesia, terutama presidential hopefuls yang mulai melirik facebook sebagai platform kampanye mereka dan mengumpulkan suara dan dukungan.

Terutama dengan apa yang disebut “become a fan” application Biar gak ribet, InDi sebut dia sebagai fans apps.

Walaupun kita patut menduga politisi-politisi ini bukan yang menyiptakannya tetapi impactnya luar biasa. Kalau kita panya Adit, selaku Web Analytics InDI ini karena mereka ingin lebih dekat ke anak muda, karena banyak dari pemilih memang akrab dengan internet.

Walaupun boleh dibilang kebanyakan di kota besar dan tidak bisa merepresentasikan seluruh pemilih, tetapi impactnya jauh lebih besar dari sekedar janji-janji dan tampil di acara-acara sumbangan atau iklan basa basi.

Kalau kita melihat: “Hey..teman saya ternyata dukung Prabowo loh…atau hey bos gue dukung SBY,” kita otomatis akan berfikir…”hmmm maybe this dude isn’t so bad after all, maybe I should also support him or her.” Walau buat saya.. definitely not her. Dan kalau Prabowo atau Wiranto jadi presiden saya langsung murtad sama bangsa dan Negara.

Politics aside:

Susilo Bambang Yudhoyono yang paling banyak disupport dengan 21,494 supporter. SBY juga punya 1 profil dan 3 group. Bahkan istrinya bu Ani Yudhoyono juga punya facebook groups anggotanya lebih dari seribu lagi. Yang hebat ada 1,452 wall post kebanyakan menyuarakan aspirasinya tentang masalah masalah mereka dan banyak juga yang menyuarakan dukungan penuh bahkan ada yang mengaku sampai ke akhirat sekali pun. Wow.

Gak jelas siapa sih yang bikin. Tapi mungkin kelihatannya bukan SBY sendiri. Saya pun ragu dia punya email

Virtual Press Room

Kadang praktisi PR suka sebal dengan wartawan, karena mereka tidak tahu waktu kalau menelpon, kadang waktu rapat, kadang hari minggu, atau kadang malam malam buta dan yang mereka tanyakan sebetulnya sudah ditanyakan wartawan lain, jadi kadang kita harus mengulang lagi jawaban kita.

Kadang-kadang mereka menanyakan hal yang sama setiap hari, akhirnya jawaban kita terkesan template: “Yah itu masih dibahas,” atau “Yah, saat ini kita belum bisa berkomentar”, dan kadang juga pertanyaan mereka sangat memaksa sehingga kita kerap emosi.

Faktanya adalah:

  • Wartawan punya deadline
  • Wartawan punya kewajiban untuk memberikan pemberitaan yang berimbang
  • Wartawan wajib menghubungi anda, walaupun anda menolak untuk berkomentar

Wartawan terkadang cuma butuh satu paragraf dari anda, untuk itu pun mereka rela menelpon anda yang selalu sibuk, gak diangkat angkat, pergi ke kantor anda, ketemu satpam, ketemu sekertaris, menunggu anda sampai berjam-jam.

Jika anda tidak berkomentar, yang rugi adalah anda sendiri

Solusinya: masukkan pernyataan anda ke dalam virtual press room

Virtual press room adalah sebuah halaman khusus wartawan yang berisi press release, fact sheet, anticipated Q&A, terkadang juga photo release. Jadi wartawan dapat mengutip langsung tanpa harus bersusah payah dan mengganggu anda.

Masalah yang kerap terjadi:

  • Tidak ada tanggal

Isu jadi basi, komentar out of date dan mungkin ada perkembangan baru atau position kita sudah tidak sama lagi. Kalau lebih dari seminggu, HAPUS!

  • Tidak up to date

Buat statement saat sebuah issue mencuat, saat itu juga

  • Tidak ada judul

Konteksnya jadi tidak jelas anda mengomentari tentang kasus apa. Antisipasi semua pertanyaan yang akan timbul. Sepertinya sudah jelas. Selain itu, get ALL the facts and get them RIGHT.

  • Sulit mencari isu yang ingin ditanyakan

Anda dapat menyediakan search engine dan wartawan dapat mengetik kata kunci. Jika memang tidak ada isu tersebut arahkan ke halaman yang berisi tulisan “maaf, kami saat ini belum bisa berkomentar tentang masalah ini” tapi jangan kelamaan, nanti semua isu anda buat seperti ini atau anda berkesan ada yang ingin ditutup-tutupi

  • Tidak ada source

Yang menulis juga bingung, siapa yang bicara, kredibel atau tidak.

  • Tidak ada contact number

Bagaiman dia bisa follow up, atau punya pertanyaan lain

  • Tidak bisa bertanya

Buat model reply atau komen dalam blog dong, kan threadnya bisa panjang tapi komen tidak penting jangan diapprove. Siapa saja termasuk kompetitor anda bisa masuk. Password protect, free sign up dengan mengisi form termasuk nama media dan nomer telpon sehingga kita bisa check, atau by invitation only.

  • Tidak ada disclaimer

Kan tidak bagus kalau beritanya seperti ini “CEO of XYZ said the company’s third quarter was up by 10 percent as quoted by the company’s virtual press room”. Bilang saja, silahkan mengutip pernyataan kami berikut ini.

Blogger Mums as Corporate Conversation Partner

Oleh Aditya Fajar

Kehadiran blog sedikit banyak telah merubah cara masyarakat berkomunikasi dan berinteraksi. Di industri public relations sendiri, kehadiran dan pengaruh blog semakin diperhitungkan karena blog merupakan medium yang secara langsung menyuarakan pandangan masyarakat tanpa melalui filterasi sang penjaga gerbang (media) dan blog, terbukti mampu merubah cara pandang masyarakat terhadap sebuah isu dan terhadap sebuah organisasi.

Di Indonesia sendiri belum banyak perusahaan yang secara aktif menempatkan blogger sebagai partner komunikasi. Padahal, layaknya pemerintah, perusahaan membutuhkan lawan bicara yang bisa mewakili stakeholder perusahaan tersebut.

Sebagai contoh, bila sebuah perusahaan bergerak di bidang fashion anak muda, maka perusahaan membutuhkan lawan bicara dari kelompok remaja di mana mereka merupakan target market perusahaan tersebut. Dengan melakukan komunikasi aktif-persuasif dengan para remaja, perusahan tadi bisa mengetahui lebih dalam apa yang diinginkan oleh para remaja (konsumen) dan mengembangkan program-program komunikasi untuk mempertahankan mereka. Dan blog merupakan salah satu medium terbaik untuk melakukan dua tujuan tadi, mengetahui apa yang diinginkan publik dan mengetahui apa yang harus diintegrasikan dalam program komunikasi untuk mempertahankan pandangan positif terhadap perusahaan.

Hasil Survey tentang Corporate Blogging

Sekitar dua bulan yang lalu, InDiPR melakukan riset tentang corporate blog untuk melihat sejauh mana perusahaan telah mengadaptasikan blog sebagai salah satu medium komunikasi mereka. Untuk menjawabnya InDi melempar pertanyaan dua pertanyaan pokok: apakah perusahaan-perusahaan di Indonesia mempunyai blog?; dan apakah perusahaan-perusahaan tersebut memonitor blog-blog lain?

Setelah melempar pertanyaan ini melalui mailing list public relations di Indonesia, melalui e-mail langsung, menggunakan situs survey my3q.com dan micropoll.com dan menampilkannya di blog InDi kami mendapatkan partisipasi dari 130 responden.

Responden-responden ini berasal dari bidang otomotif, consumer good, asuransi, konsultan, minyak dan gas, NGO, media, internet provider, periklanan dan penyelenggara pendidikan tinggi. Yang paling banyak adalah dari minyak dan gas (21 responden) sementara yang paling sedikit adalah penyelenggara pendidikan (1 responden). Besar perusahaan mereka juga bervariasi dari di bawah 50 sampai lebih dari 400 karyawan. Yang paling banyak adalah yang lebih dari 400 karyawan (38%).

Dari survey ini terlihat bahwa hanya 6% dari perusahaan punya corporate blog sedangkan selebihnya tidak. 100% dari perusahaan yang tidak punya corporate blog mengatakan mereka tidak melihat urgensi untuk punya corporate blog. 56% dari perusahaan tersebut mengatakan mereka tidak punya pemahaman yang cukup mengenai blog.

Designed by: Free Cell Phones | Thanks to Highest CD Rates, Domain Registration and Registry Software